Dunia yang hitam...
“Triii? Lo udah sadar?” tanya Tirta dengan nada pelan,
suaranya samar sekali di telingaku.
“Gue di mana Tir?” tanyaku parau.
“Lo,, di rumah sakit Tri” jelasnya yang mengingatkanku pada
kecelakaan itu tapii,,,
“koq rumah sakitnya gelap Tir, mati lampu yah?” bingungku.
“Sebentar yah, gue panggilkan dokter dulu” izinnya.
Tak lama kemudian,
“Sebentar yah mba Tri, saya periksa dulu matanya” ucap
seseorang, yang kupikir mungkin dia dokter
“Dokter, mata saya kenapa? Kenapa gelap sekali?” parauku yang
mulai takut dan menangis “Dok, tolong nyalain lampunya, Tri gak bisa liat,
Dokteeer,,,, nyalain lampunyyya, Tir, tolong nyalain lampunya,,, gelap
Tir,,,,”pintaku sambil menangis, “tenang Tri, tenang, lo pasti sembuh...”ucap
Tirta mengusap dahiku.
“Mas Tirta, bisa kita bicara dulu sebentar di luar” pinta
Dokter.
“Triii, lo tunggu di sini yah, jangan takut, sebentar lagi
lampunya pasti nyala” jelas Tirta.
Tirtapun meninggalkan gue dan mengobrol dengan dokter,
entahlah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang jelas, sekarang gue sadar
kalau dunia gue menjadi gelap...
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat lagi dan lagi, kalau
gue hitung hari ini hari ke 10 dalam dunia gelap.
“makan yah Triii,,, biar lo cepet sembuh” pinta Tirta
“sembuh? Lo tau kan gue itu gak bakalan sembuuuuuuhhhhhh
Tir.... gue itu buta Tir, BUTTTTAAAA....” teriak gue melempar makanan yang di
berikan Tirta di pangkuan gue. Rasanya, gue udah gak bisa hidup lagi, buat apa
gue hidup kalo gue buta, buat apa???
Dunia terang ku berikan padamu
“Halo? Tara?” Sapa Tirta “Tar, please lo balik ke Indonesia,
gue udah gak tau lagi harus gimana ngadepin Trii, berkali-kali dia coba bunuh
diri, dia udah gak mau makan sama sekali, Tara, gue mohon sama lo, “ mohon
Tirta terisak tangis.
Sudah lama rasanya tidak menginjakkan kaki di rumah ini,
masih sama tapi ada beberapa ruang yang direnovasi, terlihat seorang wanita
duduk termenung di atas kursi rodanya, wajahnya pucat dan tirus, badannya
terlihat kurus sekali. Akupun menghampirinya, duduk di hadapannya, mencoba
untuk menahan tangis, menyentuh wajah tirusnya, melihat tatapannya yang kosong,
tanpa berkata sepatahpun dia mulai meneteskan airmata, aku pun memeluknya untuk
menguatkannya,
“Tara.....” sedihnya
“Iya, ini gue Triii, gue Tara....”ucapku “Sorry, gue baru
datang sekarang.............”lanjutku menahan airmata.
“Tara, gue takuuuuuttt,,,” tangisnya memecah keheningan.
“Lo gak usah takut Tri, ada gue di sini, gue gak akan bakalan
ninggalin lo lagi, oke!” jelasku mencoba menenangkannya.
“Tar...” sapa seseorang memecah keheningan tangis kami.
Tanpa pikir panjang, BUGG... akupun langsung memberikan
hadiah yang cukup untuk membuat mukanya memar, “bajingan lo, Tir!” kesalku,
“gue udah bilang sama lo, jaga Tri baik-baik, tapi apa? APPA? Lo liat dia, HUH,
lo liat dia, HUUUH!!!” teriakku sambil menarik kerah bajunya, diamnya Tirta
membuat kesalku semakin meluap tapi aku tak bisa memukulnya lebih dari itu,
“AARRGGGGHHHHH” kesalku.
“Cukup Tar,, Cukup,, hiks hiks” ucap Tri sambil menangis “gue
mau istirahat Tar, tolong anterin gue ke kamar, dan lo Tir, lo gak perlu ke
sini lagi” pintanya menahan isak tangis.
“lo tunggu di sini, urusan kita belum selesai” ucapku pada
Tirta yang jatuh terkulai akibat pukulanku, dan akupun mengantarkan Tri ke
kamarnya.
Tak butuh waktu lama, Tripun tertidur lelap, terlihat sekali
di wajahnya dia begitu lelah dan ketakutan, akupun mencoba menenangkannya
dengan menggenggam tangannya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang
hingga akhirnya dia dapat tidur dengan tenang, setelah itu, aku menghampiri
Tirta yang sedang duduk di ruang makan, mencoba untuk mengobati luka bekas
pukulanku,
“sini, gue bantuin” ucapku yang melihat dia sedang kesusahan
mengobati dirinya sendiri. Selama pengobatan suasana menjadi hening dan terasa
kaku sampai akhirnya,
“ma’af” ucapnya memecah keheningan, “gue gak bisa tepatin
janji gue” sesalnya. Gue cuma bisa diam dan terus melakukan pengobatan pada
wajahnya yang mulai terlihat bengkak, “kata dokter, Tri masih punya harapan
untuk melihat lagi dengan jalur operasi, auw” jelasnya terputus karena menahan
sakit di wajahnya, “tapi dia butuh pendonor mata untuk bisa melihat lagi” sambungnya
“ya udah, kalo gitu donorin mata lo buat Tri” cetusku yang
membuatnya terkejut “kenapa? Lo takut?” ketusku “cih, baru rencana aja, lo udah
takut, apalagi Tri” kesalku dan melampiaskan kekesalanku pada wajahnya yang
sedang kuobati
“auuwww,, pelan-pelan kenapa? Sakit tau, sini, biar gue yang
ngobatin sendiri” pintanya. Sikap kekanak-kanakan dan manjanya Tirtalah yang
membuat aku tak bisa memarahinya, aku hanya berpikir wajar, dia bersikap
seperti itu karena dari kecil dia sudah ditinggalkan oleh ibunya dan ayahnya
alias pamanku sibuk bekerja.
“lo tau kan Tar, gue udah lama mencari sosok Tri dari waktu
gue kecil, bagi gue dia itu peri kecil yang udah menyelamatkan gue dari
keterpurukan setelah nyokap ninggal, gue terus berpikir positif sejak saat itu,
meskipun nyokap udah gak ada dan bokap sibuk kerja, gue berusaha untuk
melakukan kegiatan positif dan sebisa mungkin tidak menjadi anak yang broken
home demi bertemu dia, karena katanya anak baik itu do’anya cepat sekali
terkabul, dan benar saja, pas SMA, gue ketemu dia, dan itu adalah hal terindah
yang Allah SWT kasih ke gue, awalnya gue ragu, apa mungkin gue masih suka sama
dia? Secara lo tau kan awal ketemu dia, waktu gue masih kecil banget, and
setelah waktu berjalan, ternyata gue sadar, kalau gue emang cinta sama Tri, gue
bakal ngelakuin apa aja agar Tri bahagia, gue rela magang kerja di mana-mana
demi masa depan kami, meskipun Tri kadang suka kesal dengan kesibukan gue, tapi
dia mencoba untuk selalu mengerti gue, nerima gue apa adanya, selalu mendukung
gue, sampai akhirnya, ada kesalahpahaman antara gue sama dia yang menyebabkan
kecelakaan itu dan sekarang Tri buta, lo tau Tar, bukan Cuma Tri aja yang syok
tapi gue juga, andai aja waktu itu gue gak mementingkan klien, mungkin ini gak
akan terjadi, gue,,, memang berencana untuk mendonorkan mata gue buat dia, tapi
gue juga takut, gue butuh waktu Tar, gue masih ingin melihat Tri ceria lagi,
tersenyum lagi” jelasnya.
“tapi Tir, peri kecil lo itu, keadaannya udah berubah, dia
sedang berada dalam masa-masa keterpurukan, mana bisa dia tersenyum, yang ada
matanya malah nambah bengkak gara-gara keseringan menangis” tuturku
“Nah, justru itu, gue butuh lo Tar, menurut gue, cuma lo yang
bisa buat Tri tersenyum, karena lo udah kenal Tri lebih lama daripada gue, jadi,
gue mohon sama lo, buat Tri tersenyum lagi” pintanya.
Sejak hari itu, hari demi hari gue, gue lewati dengan
mengurus segala kebutuhan Tri, mulai dari makan dan mengajak dia jalan-jalan,
tapi ma’af tidak dengan memandikannya yah, karena aku bukan muhrimnya, kalau
soal itu aku serahkan kepada bibi yang udah lama mengurusku sejak orang tua
merantau ke Singapore, hehe...
Awalnya agak sulit memang, mengubah mindset Tri yang sedang
dalam keadaan terpuruk menjadi berpikir positif lagi, tapi dengan keteguhan dan
kesungguhanku, akhirnya sekarang Tri sedikit demi sedikit berubah, dan tidak
ingin mencoba bunuh diri lagi tentunya, mulai ada senyum menghias di bibirnya,
semangatnya mulai tumbuh, kamipun rajin berkonsultasi dengan dokter dan
menanyakan apakah sudah ada donor mata yang cocok atau belum. Lalu bagaimana
dengan Tirta? Kalian mungkin bertanya-tanya ke mana dia, yah sebenarnya dia
selalu bersama kami hanya saja tanpa sepengetahuan Tri, Tirta selalu berkunjung
tanpa berucap satu katapun, karena kalau dia berbicara Tri pasti akan
mengusirnya lagi dan lagi, melihat kesungguhan Tirta yang mencintai Tri,
membuat aku sadar, Tri lebih membutuhkan orang yang seperti Tirta daripada
sepertiku, sudah saatnya mereka berdua bahagia.
“Taraaaaaaaa,,,,,, “ panggil Tirta, “akhirnya kita dapat
pendonor, barusan dokter nelpon gue, katanya ada pendonor mata yang cocok buat
Tri” tuturnya senang, dan akupun hanya tersenyum melihat tingkahnya,
“Triiiiiii,,, akhirnya, gak lama lagi kamu bisa melihat, sayang” ucapnya sambil
mengecup kening Tri dan memeluknya, Tri pun hanya bisa menangis bahagia dalam
pelukannya, menurutku, itu adalah moment yang bahagia yang gak bakal terlupakan.
Duniaku terang kembali
“1, 2, 3...... Tadaaaaaaaa, Surpise” ucap Tirta memberikan
suprise padaku di hari keduaku untuk melihat dunia, terang dan jelas, buatku
ini adalah anugerah-Nya yang terindah,
“Wuaaaahhhh,,,,, iniiiiiiiii” ucapku yang terputus karena
kekagumanku pada suprise Tirta yang berisikan potographi ku mulai dari kecil
hingga sekarang yang ia gantungkan layaknya menggantung jemuran di tambah
beberapa lilin kecil menghiasi taman membuat suasana romantis dan indah sekali,
jujur ini adalah hal teromantis yang pernah gue alami, (ya iyalaaahhh,, secara
lo kan emang gak pernah punya pacar selain Tirta,,, hahaha) hehe, “ Tirta,, ini baguuuuss banget, semua ini ide
lo?”
Tanyaku yang masih dengan rasa kagum.
“mmm,,, yup” singkatnya membenarkan pertanyaanku “mmmm....
Tri, gue,,, mmm,, lo,,, mmm” ucapnya yang sedikit ragu.
“lo tuh kenapa sih Tir? A e a e, mmm, apa? Lo mau ngomong apa
sama gue?” heranku sambil tersenyum karena kelakuannya.
“mmm, Tri, lo kan tau, gue sebenarnya udah kenal lo sejak
kecil, dan sejak saat itu gue suka sama lo dan rasa suka itu berlaku samapi
sekarang, lo selalu ada buat gue, selalu mendukung gue, nerima gue apa adanya,
jadi.... lo mau gak jadi pendamping hidup gue?” pintanya sambil bersimpuh
layaknya pangeran dan mengajukan sebuah cincin di depanku, mungkin jika kau
jadi diriku, kau pasti bakal bilang ya ya aku mau, mau banget pangeran, (haha,,
ya iyalah, mana ada cewe yang bisa nolak lamaran seromantis itu!)
Tappppiiii tidak denganku, pikiranku mulai tidak fokus setelah
aku melihat beberapa poto tempat rahasia antara aku dan Tara, dan baju yang aku
kenakan dipoto itu, bagaimana bisa? Bukankah Tara waktu itu ada di Singapore?
Siapa yang mengambil Foto itu, apa mungkin Tirta? Apa Tara memberitahukan
tempat rahasia kami pada Tirta, itulah yang ada dipikiranku saat Tirta
mengajukan lamarannya padaku,
“Tir, mmm, sory, sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue mau
tanya, lo dapet semua poto ini dari mana?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Oh, iniii, mmm, gue dapat semua poto ini dari Tara, dia
kan....” tutur Tirta yang terputus oleh pertanyaanku “di mana dia sekarang?”
“dia lagi di rumah, mungkin sedang berkemas-kemas karena besok dia mau kembali
lagi ke Singapore, tapi memangnya kenapa Tri?” herannya.
“Sorry Tir, gue gak bisa nerima lamaran lo, gue harus
pergi....”singkatku sambil terburu-buru pergi. Selama dalam perjalanan ke rumah
Tara, banyak pikiran-pikiran ku yang muncul mengenai kami berdua, dia yang
menemaniku dan menyemangatiku sejak SMP, dia yang pergi ke Singapore tapi
sebenarnya dia sering mengunjungiku tanpa sepengetahuanku, dia yang buat aku
bangkit dari masa keterpurukan saat aku buta, dia yang selalu memberikan senyum
dan membuatku tersenyum dan dia....
“Tarraaa,,,” panggilku sesampainya di rumah Tara, ternyata
kebiasaan Tara dan Tirta menular kepadaku yaitu maasuk rumah orang tanpa
mengetuk pintunya terlebih dahulu. Aku pun masuk dan mencari ke seluruh
ruangan, kamarnya Tara menjadi pencarianku yang terakhir.
“Tarraaa??” saat ku buka pintu kamarnya yang memang sudah
agak terbuka, aku melihat sesosok pria bertubuh tegap sedang berdiri menghadap
jendela yang sebesar pintu, yah dia
adalah Tara, entah apa yang sedang dipikirkannya, hingga dia berdiri di sana, dan
hal itu menambah daftar pertanyaan yang sudah mulai penuh dikepalaku mengenainya.
“Tarra?” sapaku pelan dan mulai mendekatinya perlahan, dia
tak menjawab sapaanku,
“Tarra? jangan pergi” pintaku sambil memeluknya dari belakang,
namun dia hanya diam dan suasanapun menjadi hening. “Tarraaa, gue gak mau lo
pergi” pintaku untuk kedua kalinya, tanpa berkata apapun dia melepaskan
tanganku dari pelukannya,
“Tara, liat gue, please jawab gue, lo gak bakal pergi lagi
kan?” pintaku untuk ketiga kalinya, “Tarraaaaa,,, li” ucapku terputus ketika
mencoba membalikkan tubuhnya dan melihat kondisi Tara yang berbeda, sebenarnya
apa yang telah terjadi? Apa mungkin... “Jadi... ini... hiks hiks, alasan lo
bakkal... pergi lagi ke Singapore?” ucapku mengalirkan air mata, “kenapa?...
Kenapa lo mau berkorban buat gue, kenappaa?” ucapku yang masih menangis dan dia
mencoba memelukku.
“sorry Tri, gue cuma mau lo bahagia sama Tirta, gue gak mau
liat lo sedih, mata ini gak berarti apa-apa dibanding kebahagian lo” jelasnya.
“tapi... gue sayangnya sama lo, Tara, gue cinta sama lo,
bukan sama Tirta, gue cuma mau hidup selamanya sama lo, please jangan pergi,
jangan tinggalin gue lagi” pintaku untuk ke sekian kalinya.
Cinta itu ini
2 bulan kemudian
“wuaahhh,,,lihat! siapa ini? Cantik sekali, jadi ngiri dweh” ucap Dira. Dan akupun hanya tersenyum
Yup, hari ini adalah hari terindah bagi aku dan Tara, setelah
bersusah payah untuk mendapatkan pendonor mata yang cocok bagi Tara, akhirnya
kami meresmikan hubungan kami di depan semua orang.
“Selamat yah Tri.....”ucap seseorang.
“Kak Irnaaaaa,,,,”senangku dan memeluknya dengan erat.
“wuaaaahhhh, lama tak jumpa, adikku cantik sekali” ucap seorang lelaki yang sedang menggendong bayi mungil, dan itu
cukup membuat ku terkejut riang.
“Kak Tiooooooooo,,,, “
ucapku, yang ingin memeluknya tapi terhalang si bayi mungil, “innni?”heranku.
“Hallooow tante...” sapa kak Tio mewakili si bayi mungil yang
masih belum ahli berbicara, dan itu membuatku terkejut, amat sangat terkejut,
ternyata kak Tio sudah berkeluarga dan punya anak, tapi dia tak pernah kasih kabar
tentang pernikahannya, karena katanya, papa pasti tidak akan setuju jika dia
menikah dengan wanita biasa, sedangkan kak Irna, dia mengalami keguguran akibat
kecelakaan setelah peristiwa besar itu, sedih sekali mendengarnya.
Aku pikir tak kan ada lagi hal yang mengejutkan selain
kedatangan kedua kakakku, tapi ternyata ada yang lebih mengejutkan lagi dan
rasanya ini adalah moment yang gak bakal aku lupakan seperti halnya moment 17
Agustus, kedua orang tuaku datang ke acara nikahanku ini, yaaah meskipun mereka
datang dengan pasangan masing-masing (miris yah!!) tapi kami semua merasa
bahagia dan akhirnya aku tahu CINTA ITU APA?
Cinta itu pengorbanan, penantian dan juga proses, itu menurut
gue, kalo lo? ^_^v
END,