Kamis, 03 Desember 2015

Cinta Koq Begitu? (Part 1)



“Nah, ini dia” ucapku setelah menemukan sosok yang aku cari di salah satu media sosial, “Owh... jadi, namanya Bagas Saputra” sambungku.
“Gimana?” ucap temanku yang mulai mengambil posisi duduk di sampingku, “ketemu?” sambungnya.
“Gak tau nih, coba kita lihat poto2nya yah, benar gak yah? Orangnya ini” ucapku. Kamipun menghabiskan waktu beberapa jam di warnet untuk mengkepoin orang yang mebuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Ih, manis yah...” ucapku.
“Iya, manis, tapi, coba lihat relationshipnya, jangan-jangan udah double lagi” ucap temanku. Ah benar! Baru kepikiran, akupun mulai mencari kata-kata relationship.
“Oh My Good, SINGLE...” girangku.
Semenjak hari itu, aku dan Bagas memulai pertemanan kami di medsos, dan aku berencana untuk mengajaknya bertemu, tapi aku bingung bagaimana? Apa alasannya bertemu? Lama berpikir, terlintas untuk meminjam buku padanya, secara kami dari jurusan yang sama namun berbeda tingkat, yah dia kakak tingkatku.
“Ini bukunya, sorry gak bisa ngobrol lama, so’alnya sebentar lagi masuk kelas” tuturnya dan pergi begitu saja. Kejadian itu buatku berpikir “HUH, begini duank?” tapi tetap saja bertemu dengannya membuatku tersenyum-senyum sendiri.
Meskipun pertemuan awal kami kurang begitu meyakinkan, tapi seiring berjalannya waktu kami semakin dekat, sampai akhirnya.
“Fatma yah?” sapa seorang wanita cantik berlesung pipi.
“Iya, kak” jawabku.
“Mau ketemu sama Bagas yah?” tanyanya lagi.
“Iyya” jawabku heran darimana dia tahu kalau aku mau ketemuan sama Bagas.
“Tadi Bagas titip pesan, katanya kalau mau ketemu tunggu sampai jam 5 sore, so’alnya mau ada workshop, gak apa-apa kan? Bentar duank koq” jelasnya tersenyum.
“Ya udah yah, oh iya, nama saya Rika” ucapnya memperkenalkan diri dan meninggalkanku pergi.
“Jam 5 sore? Hhmm, lamanya sekarang aja baru jam 4 sore” pikirku, “pulang aja, apa yah?” bingungku dan akhirnya aku mengirimkan sms kepadanya “aku pulang”
Dalam perjalanan pulang, aku melihat sosok bagas bersama seorang wanita dengan mesranya “loh? Bukannya itu kak Rika yah?” heranku dalam hati, namun sayang aku tak bisa melihat secara jelas karena angkut yang aku naiki berjalan cepat,
Rasa penasaranku terbawa sampai rumah, demi menghilangkan rasa penasaranku akupun bertanya padanya via sms “boleh nanya gak?” “nanya apa?” “Kak Rika itu siapa?” “teman” “yakin teman?” “ya iyalah, emang kenapa?” hhhmm akupun berpikir sejenak, iya yah memangnya kenapa? Dan akupun melanjutkan sms “cemburu tau” “loh, koq bisa?” “tau ah”   huaahh, kesal sekali rasanya, dia tak membalas smsku lagi.
Sejak hari itu akupun mulai curiga, dan tanpa sengaja aku melihat mereka berduaan, dan semakin lama ku amati, mereka memang sering jalan berdua, ke sana berdua ke sini juga berdua, masa iya cuma teman? Sampai akhirnya aku mencoba menelponnya ketika aku melihat mereka sedang berduaan, dan teleponku di reject begitu saja, oh my good sakit banget rasanya.
Malam hari tiba, aku mengirimkan sms kepadanya “tadi siang aku telepon koq gak diangkat?” “telepon? Masa sih?” “hhmm, kamu suka yah sama Rika?”. Setengah jam kemudian “memang kalau suka kenapa?” “gak apa-apa, cemburu aja” “oh” “terus, kamu udah nembak dia?” “waduw, masa nembak, yang ada tuh anak mati lah, hehe” “ih seriiuusss..” “gak koq, dia cuma teman”  teman lagi? Mana ada teman kayak orang pacaran. “ya udah besok ketemuan yah” “mau ngapain?” “ketemuan aja, kangen, hehe.” Diapun tak menjawab smsku lagi, huaahh sedihnya.
Hari pertemuan, menunggunya sungguh membosankan, jika saja aku tak menyukainya mungkin aku tak kan mau menunggunya.
“Loh, Fatma? Lagi ngapain di sini?” tanya kak Rika, “Haduh! kenapa ada kak Rika sih?” pikirku “Lagi nuguin Bagas yah?” tanyanya lagi.
“Iya” singkatku pelan.
Tak lama kemudian, Bagas datang, tapi koq sama teman-temannya yah?
“Gimana? Udah pada selesai workshopnya?” tanya kak Rika, “Udah” jawab salah satu di antara mereka.
“Hai” sapaku pada Bagas,
“Cie-cie, siapa tuh Gas?” tanya temannya menggoda, “Pacarnya bagas tuh” celetuk kak Rika. Teman-teman bagas hanya mengatakan “OOOwwhh” dengan serentak dan mengangguk.
Pacar? sejak kapan aku menjadi pacarnya Bagas, memang sih.. aku suka banget sama Bagas, tapi kami belum resmi jadian, lagian Bagas juga gak pernah mau jawab, kalau ditanya tentang perasaan, and then kenapa juga kak Rika mengira kalau aku pacarnya Bagas, bukannya dia yah yang pacarnya Bagas? Apa mungkin Bagas cerita tentang diriku padanya? Bete deh.
Malam hari, entah kenapa aku ingin sekali mengirim sms kepada kak Rika “kak Rika, Bagas suka tuh sama kak Rika” “waduh? masa sih? Hahaha” “iya, kenapa kalian gak pacaran aja? Kalian kelihatan serasi koq” “mmm, ya gak mungkinlah, lagian kak Rika udah punya tunangan kali, nanti tunangan kak Rika mau dikemanain?” hah? Punya tunangan? Tapi koq gitu? “Lagian Bagas itu sukanya sama kamu, cuma dia gengsi aja” Bagas suka sama aku? Wuaahh tapi koq gitu? Hhhmm jadi penasaran, akhirnya aku mengirimkan sms ke Bagas “kamu suka sama aku?” lama tak ada jawaban “kalau suka kenapa? Kalau gak kenapa?” “iihh seriuusss...”  tak ada balasan sama sekali. 
Aku tak menyangka kalau itu adalah sms-an kami untuk yang terakhir kalinya, karena tak lama setelah sms itu, aku menerima cinta dari lelaki lain, karena kupikir dia menyukai kak Rika, sehingga aku harus move on, namun perjalanan cintaku tak berjalan mulus, baru 1 bulan berjalan, kami sudah putus, karena aku menyadari, siapa sebenarnya yang aku cintai, ingin sekali rasanya aku kembali pada Bagas meski hanya sebagai teman, tapi sayang, usut punya usut ternyata dia telah berpacaran dengan kak Rika. “Ah benar! Katanya, tak ada yang namanya pertemanan antara lelaki dan perempuan” pikirku.

Sabtu, 05 September 2015

CINTA ITU APA? (END)



Dunia yang hitam...
“Triii? Lo udah sadar?” tanya Tirta dengan nada pelan, suaranya samar sekali di telingaku.
“Gue di mana Tir?” tanyaku parau.
“Lo,, di rumah sakit Tri” jelasnya yang mengingatkanku pada kecelakaan itu tapii,,,
“koq rumah sakitnya gelap Tir, mati lampu yah?” bingungku.
“Sebentar yah, gue panggilkan dokter dulu” izinnya.
Tak lama kemudian,
“Sebentar yah mba Tri, saya periksa dulu matanya” ucap seseorang, yang kupikir mungkin dia dokter
“Dokter, mata saya kenapa? Kenapa gelap sekali?” parauku yang mulai takut dan menangis “Dok, tolong nyalain lampunya, Tri gak bisa liat, Dokteeer,,,, nyalain lampunyyya, Tir, tolong nyalain lampunya,,, gelap Tir,,,,”pintaku sambil menangis, “tenang Tri, tenang, lo pasti sembuh...”ucap Tirta mengusap dahiku.
“Mas Tirta, bisa kita bicara dulu sebentar di luar” pinta Dokter.
“Triii, lo tunggu di sini yah, jangan takut, sebentar lagi lampunya pasti nyala” jelas Tirta.
Tirtapun meninggalkan gue dan mengobrol dengan dokter, entahlah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang jelas, sekarang gue sadar kalau dunia gue menjadi gelap...
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat lagi dan lagi, kalau gue hitung hari ini hari ke 10 dalam dunia gelap.
“makan yah Triii,,, biar lo cepet sembuh” pinta Tirta
“sembuh? Lo tau kan gue itu gak bakalan sembuuuuuuhhhhhh Tir.... gue itu buta Tir, BUTTTTAAAA....” teriak gue melempar makanan yang di berikan Tirta di pangkuan gue. Rasanya, gue udah gak bisa hidup lagi, buat apa gue hidup kalo gue buta, buat apa???


Dunia terang ku berikan padamu
“Halo? Tara?” Sapa Tirta “Tar, please lo balik ke Indonesia, gue udah gak tau lagi harus gimana ngadepin Trii, berkali-kali dia coba bunuh diri, dia udah gak mau makan sama sekali, Tara, gue mohon sama lo, “ mohon Tirta terisak tangis.
Sudah lama rasanya tidak menginjakkan kaki di rumah ini, masih sama tapi ada beberapa ruang yang direnovasi, terlihat seorang wanita duduk termenung di atas kursi rodanya, wajahnya pucat dan tirus, badannya terlihat kurus sekali. Akupun menghampirinya, duduk di hadapannya, mencoba untuk menahan tangis, menyentuh wajah tirusnya, melihat tatapannya yang kosong, tanpa berkata sepatahpun dia mulai meneteskan airmata, aku pun memeluknya untuk menguatkannya,
“Tara.....” sedihnya
“Iya, ini gue Triii, gue Tara....”ucapku “Sorry, gue baru datang sekarang.............”lanjutku menahan airmata.
“Tara, gue takuuuuuttt,,,” tangisnya memecah keheningan.
“Lo gak usah takut Tri, ada gue di sini, gue gak akan bakalan ninggalin lo lagi, oke!” jelasku mencoba menenangkannya.
“Tar...” sapa seseorang memecah keheningan tangis kami.
Tanpa pikir panjang, BUGG... akupun langsung memberikan hadiah yang cukup untuk membuat mukanya memar, “bajingan lo, Tir!” kesalku, “gue udah bilang sama lo, jaga Tri baik-baik, tapi apa? APPA? Lo liat dia, HUH, lo liat dia, HUUUH!!!” teriakku sambil menarik kerah bajunya, diamnya Tirta membuat kesalku semakin meluap tapi aku tak bisa memukulnya lebih dari itu, “AARRGGGGHHHHH” kesalku.
“Cukup Tar,, Cukup,, hiks hiks” ucap Tri sambil menangis “gue mau istirahat Tar, tolong anterin gue ke kamar, dan lo Tir, lo gak perlu ke sini lagi” pintanya menahan isak tangis.
“lo tunggu di sini, urusan kita belum selesai” ucapku pada Tirta yang jatuh terkulai akibat pukulanku, dan akupun mengantarkan Tri ke kamarnya.
Tak butuh waktu lama, Tripun tertidur lelap, terlihat sekali di wajahnya dia begitu lelah dan ketakutan, akupun mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangannya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang hingga akhirnya dia dapat tidur dengan tenang, setelah itu, aku menghampiri Tirta yang sedang duduk di ruang makan, mencoba untuk mengobati luka bekas pukulanku,
“sini, gue bantuin” ucapku yang melihat dia sedang kesusahan mengobati dirinya sendiri. Selama pengobatan suasana menjadi hening dan terasa kaku sampai akhirnya,  
“ma’af” ucapnya memecah keheningan, “gue gak bisa tepatin janji gue” sesalnya. Gue cuma bisa diam dan terus melakukan pengobatan pada wajahnya yang mulai terlihat bengkak, “kata dokter, Tri masih punya harapan untuk melihat lagi dengan jalur operasi, auw” jelasnya terputus karena menahan sakit di wajahnya, “tapi dia butuh pendonor mata untuk bisa melihat lagi” sambungnya
“ya udah, kalo gitu donorin mata lo buat Tri” cetusku yang membuatnya terkejut “kenapa? Lo takut?” ketusku “cih, baru rencana aja, lo udah takut, apalagi Tri” kesalku dan melampiaskan kekesalanku pada wajahnya yang sedang kuobati
“auuwww,, pelan-pelan kenapa? Sakit tau, sini, biar gue yang ngobatin sendiri” pintanya. Sikap kekanak-kanakan dan manjanya Tirtalah yang membuat aku tak bisa memarahinya, aku hanya berpikir wajar, dia bersikap seperti itu karena dari kecil dia sudah ditinggalkan oleh ibunya dan ayahnya alias pamanku sibuk bekerja.
“lo tau kan Tar, gue udah lama mencari sosok Tri dari waktu gue kecil, bagi gue dia itu peri kecil yang udah menyelamatkan gue dari keterpurukan setelah nyokap ninggal, gue terus berpikir positif sejak saat itu, meskipun nyokap udah gak ada dan bokap sibuk kerja, gue berusaha untuk melakukan kegiatan positif dan sebisa mungkin tidak menjadi anak yang broken home demi bertemu dia, karena katanya anak baik itu do’anya cepat sekali terkabul, dan benar saja, pas SMA, gue ketemu dia, dan itu adalah hal terindah yang Allah SWT kasih ke gue, awalnya gue ragu, apa mungkin gue masih suka sama dia? Secara lo tau kan awal ketemu dia, waktu gue masih kecil banget, and setelah waktu berjalan, ternyata gue sadar, kalau gue emang cinta sama Tri, gue bakal ngelakuin apa aja agar Tri bahagia, gue rela magang kerja di mana-mana demi masa depan kami, meskipun Tri kadang suka kesal dengan kesibukan gue, tapi dia mencoba untuk selalu mengerti gue, nerima gue apa adanya, selalu mendukung gue, sampai akhirnya, ada kesalahpahaman antara gue sama dia yang menyebabkan kecelakaan itu dan sekarang Tri buta, lo tau Tar, bukan Cuma Tri aja yang syok tapi gue juga, andai aja waktu itu gue gak mementingkan klien, mungkin ini gak akan terjadi, gue,,, memang berencana untuk mendonorkan mata gue buat dia, tapi gue juga takut, gue butuh waktu Tar, gue masih ingin melihat Tri ceria lagi, tersenyum lagi” jelasnya.
“tapi Tir, peri kecil lo itu, keadaannya udah berubah, dia sedang berada dalam masa-masa keterpurukan, mana bisa dia tersenyum, yang ada matanya malah nambah bengkak gara-gara keseringan menangis”    tuturku
“Nah, justru itu, gue butuh lo Tar, menurut gue, cuma lo yang bisa buat Tri tersenyum, karena lo udah kenal Tri lebih lama daripada gue, jadi, gue mohon sama lo, buat Tri tersenyum lagi” pintanya.
Sejak hari itu, hari demi hari gue, gue lewati dengan mengurus segala kebutuhan Tri, mulai dari makan dan mengajak dia jalan-jalan, tapi ma’af tidak dengan memandikannya yah, karena aku bukan muhrimnya, kalau soal itu aku serahkan kepada bibi yang udah lama mengurusku sejak orang tua merantau ke Singapore, hehe...
Awalnya agak sulit memang, mengubah mindset Tri yang sedang dalam keadaan terpuruk menjadi berpikir positif lagi, tapi dengan keteguhan dan kesungguhanku, akhirnya sekarang Tri sedikit demi sedikit berubah, dan tidak ingin mencoba bunuh diri lagi tentunya, mulai ada senyum menghias di bibirnya, semangatnya mulai tumbuh, kamipun rajin berkonsultasi dengan dokter dan menanyakan apakah sudah ada donor mata yang cocok atau belum. Lalu bagaimana dengan Tirta? Kalian mungkin bertanya-tanya ke mana dia, yah sebenarnya dia selalu bersama kami hanya saja tanpa sepengetahuan Tri, Tirta selalu berkunjung tanpa berucap satu katapun, karena kalau dia berbicara Tri pasti akan mengusirnya lagi dan lagi, melihat kesungguhan Tirta yang mencintai Tri, membuat aku sadar, Tri lebih membutuhkan orang yang seperti Tirta daripada sepertiku, sudah saatnya mereka berdua bahagia.
“Taraaaaaaaa,,,,,, “ panggil Tirta, “akhirnya kita dapat pendonor, barusan dokter nelpon gue, katanya ada pendonor mata yang cocok buat Tri” tuturnya senang, dan akupun hanya tersenyum melihat tingkahnya, “Triiiiiii,,, akhirnya, gak lama lagi kamu bisa melihat, sayang” ucapnya sambil mengecup kening Tri dan memeluknya, Tri pun hanya bisa menangis bahagia dalam pelukannya, menurutku, itu adalah moment yang bahagia yang gak bakal terlupakan.

Duniaku terang kembali
“1, 2, 3...... Tadaaaaaaaa, Surpise” ucap Tirta memberikan suprise padaku di hari keduaku untuk melihat dunia, terang dan jelas, buatku ini adalah anugerah-Nya yang terindah,
“Wuaaaahhhh,,,,, iniiiiiiiii” ucapku yang terputus karena kekagumanku pada suprise Tirta yang berisikan potographi ku mulai dari kecil hingga sekarang yang ia gantungkan layaknya menggantung jemuran di tambah beberapa lilin kecil menghiasi taman membuat suasana romantis dan indah sekali, jujur ini adalah hal teromantis yang pernah gue alami, (ya iyalaaahhh,, secara lo kan emang gak pernah punya pacar selain Tirta,,, hahaha) hehe,  “ Tirta,, ini baguuuuss banget, semua ini ide lo?”
Tanyaku yang masih dengan rasa kagum.
“mmm,,, yup” singkatnya membenarkan pertanyaanku “mmmm.... Tri, gue,,, mmm,, lo,,, mmm” ucapnya yang sedikit ragu.
“lo tuh kenapa sih Tir? A e a e, mmm, apa? Lo mau ngomong apa sama gue?” heranku sambil tersenyum karena kelakuannya.
“mmm, Tri, lo kan tau, gue sebenarnya udah kenal lo sejak kecil, dan sejak saat itu gue suka sama lo dan rasa suka itu berlaku samapi sekarang, lo selalu ada buat gue, selalu mendukung gue, nerima gue apa adanya, jadi.... lo mau gak jadi pendamping hidup gue?” pintanya sambil bersimpuh layaknya pangeran dan mengajukan sebuah cincin di depanku, mungkin jika kau jadi diriku, kau pasti bakal bilang ya ya aku mau, mau banget pangeran, (haha,, ya iyalah, mana ada cewe yang bisa nolak lamaran seromantis itu!)
Tappppiiii tidak denganku, pikiranku mulai tidak fokus setelah aku melihat beberapa poto tempat rahasia antara aku dan Tara, dan baju yang aku kenakan dipoto itu, bagaimana bisa? Bukankah Tara waktu itu ada di Singapore? Siapa yang mengambil Foto itu, apa mungkin Tirta? Apa Tara memberitahukan tempat rahasia kami pada Tirta, itulah yang ada dipikiranku saat Tirta mengajukan lamarannya padaku,
“Tir, mmm, sory, sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue mau tanya, lo dapet semua poto ini dari mana?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Oh, iniii, mmm, gue dapat semua poto ini dari Tara, dia kan....” tutur Tirta yang terputus oleh pertanyaanku “di mana dia sekarang?” “dia lagi di rumah, mungkin sedang berkemas-kemas karena besok dia mau kembali lagi ke Singapore, tapi memangnya kenapa Tri?” herannya.
“Sorry Tir, gue gak bisa nerima lamaran lo, gue harus pergi....”singkatku sambil terburu-buru pergi. Selama dalam perjalanan ke rumah Tara, banyak pikiran-pikiran ku yang muncul mengenai kami berdua, dia yang menemaniku dan menyemangatiku sejak SMP, dia yang pergi ke Singapore tapi sebenarnya dia sering mengunjungiku tanpa sepengetahuanku, dia yang buat aku bangkit dari masa keterpurukan saat aku buta, dia yang selalu memberikan senyum dan membuatku tersenyum dan dia....
“Tarraaa,,,” panggilku sesampainya di rumah Tara, ternyata kebiasaan Tara dan Tirta menular kepadaku yaitu maasuk rumah orang tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Aku pun masuk dan mencari ke seluruh ruangan, kamarnya Tara menjadi pencarianku yang terakhir.
“Tarraaa??” saat ku buka pintu kamarnya yang memang sudah agak terbuka, aku melihat sesosok pria bertubuh tegap sedang berdiri menghadap jendela  yang sebesar pintu, yah dia adalah Tara, entah apa yang sedang dipikirkannya, hingga dia berdiri di sana, dan hal itu menambah daftar pertanyaan yang sudah mulai penuh dikepalaku mengenainya.
“Tarra?” sapaku pelan dan mulai mendekatinya perlahan, dia tak menjawab sapaanku,
“Tarra? jangan pergi” pintaku sambil memeluknya dari belakang, namun dia hanya diam dan suasanapun menjadi hening. “Tarraaa, gue gak mau lo pergi” pintaku untuk kedua kalinya, tanpa berkata apapun dia melepaskan tanganku dari pelukannya,
“Tara, liat gue, please jawab gue, lo gak bakal pergi lagi kan?” pintaku untuk ketiga kalinya, “Tarraaaaa,,, li” ucapku terputus ketika mencoba membalikkan tubuhnya dan melihat kondisi Tara yang berbeda, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa mungkin... “Jadi... ini... hiks hiks, alasan lo bakkal... pergi lagi ke Singapore?” ucapku mengalirkan air mata, “kenapa?... Kenapa lo mau berkorban buat gue, kenappaa?” ucapku yang masih menangis dan dia mencoba memelukku.
“sorry Tri, gue cuma mau lo bahagia sama Tirta, gue gak mau liat lo sedih, mata ini gak berarti apa-apa dibanding kebahagian lo” jelasnya.
“tapi... gue sayangnya sama lo, Tara, gue cinta sama lo, bukan sama Tirta, gue cuma mau hidup selamanya sama lo, please jangan pergi, jangan tinggalin gue lagi” pintaku untuk ke sekian kalinya.

Cinta itu ini
2 bulan kemudian
“wuaahhh,,,lihat!  siapa ini? Cantik sekali,  jadi ngiri dweh” ucap Dira. Dan akupun hanya tersenyum
Yup, hari ini adalah hari terindah bagi aku dan Tara, setelah bersusah payah untuk mendapatkan pendonor mata yang cocok bagi Tara, akhirnya kami meresmikan hubungan kami di depan semua orang.
“Selamat yah Tri.....”ucap seseorang.
“Kak Irnaaaaa,,,,”senangku dan memeluknya dengan erat.
“wuaaaahhhh, lama tak jumpa, adikku cantik sekali”  ucap seorang lelaki  yang sedang menggendong bayi mungil, dan itu cukup membuat ku terkejut riang.
“Kak Tiooooooooo,,,, “  ucapku, yang ingin memeluknya tapi terhalang si bayi mungil, “innni?”heranku.
“Hallooow tante...” sapa kak Tio mewakili si bayi mungil yang masih belum ahli berbicara, dan itu membuatku terkejut, amat sangat terkejut, ternyata kak Tio sudah berkeluarga dan punya anak, tapi dia tak pernah kasih kabar tentang pernikahannya, karena katanya, papa pasti tidak akan setuju jika dia menikah dengan wanita biasa, sedangkan kak Irna, dia mengalami keguguran akibat kecelakaan setelah peristiwa besar itu, sedih sekali mendengarnya.
Aku pikir tak kan ada lagi hal yang mengejutkan selain kedatangan kedua kakakku, tapi ternyata ada yang lebih mengejutkan lagi dan rasanya ini adalah moment yang gak bakal aku lupakan seperti halnya moment 17 Agustus, kedua orang tuaku datang ke acara nikahanku ini, yaaah meskipun mereka datang dengan pasangan masing-masing (miris yah!!) tapi kami semua merasa bahagia dan akhirnya aku tahu CINTA ITU APA?
Cinta itu pengorbanan, penantian dan juga proses, itu menurut gue, kalo lo? ^_^v

END,

Senin, 24 Agustus 2015

Bbeberapa kreasi Design gue nihhh










CINTA itu APA? part 3 ^_^v



Bebas Penjara
Akhirnya masa SMA gue bentar lagi kelar, itu artinya gue bakal bebas dari penjara ini,,, hahaha senangnya, tapiiiiii,,,,, rasanya tak sesenang itu, wisuda SMA nanti gak ada yang mendampingi gue, gak ada yang ngasih ucapan selamat ke gue, gak ada,,, loh koq gak ada??? Please jangan tanya kenapa gak ada, pleaseeeee (loh emang pada ke mana gitu?), lo tau kann terakhir kabar tentang gue, gue Cuma tinggal sendiri di rumah, kemarin-kemarin sih orang tua pada ambil jalan masing-masing so, mereka cerai di hari pertama gue UN, lo bisa bayangin kan berapa stress nya gue, gue Cuma bisa pasrah sama Yang Maha Kuasa, untuk nilai UN gue, untungnya hari pertama UN itu bahasa, dan sekarang lulus atau gak nya ditentukan oleh Sekolah, kalau secara track record gue selama sekolah, lumayan lah, banyak mengharumkan nama Sekolah dengan mengikuti berbagai Olimpiade Sains gitu dweh, hehe,,, (oh gitu, kasian banget sih hidup lo yah, lo tegar banget Tri, tapiiii bukannya lo masih punya kaka cowok yah? Ke mana dia?) Oh iya, gue baru inget kalo gue masih punya kakak cowok, hahahaha,,, (beuh,, dassaarrr) nama kakak gue itu Tio Natanegara,  entahlah semenjak dia kuliah di luar kota jarang banget pulang ke rumah, ngasih kabar juga jarang, nah sekarang udah lumayaannn...(udah balik gitu maksudnya???) bukan.. uda lumayan ngilang gak ada kabar sama sekali, lost contact, tiap kali gue nelp gak pernah diangkat, miris kan, mungkin sekarang dia udah lulus dan dapat kerjaan kali yah jadi sibuk dweh, entahlah berharap yang terbaik aja buat kakak-kakak gue,,,

WISUDA SMA yyyeee lalalala yyeee lalalala...
Akhirnya lulus juga, “Tri gue mau ngomong sama lo” pinta Tirta, Oh akhir-akhir ini gue lebih deket sama Tirta daripada Tara, Tara seringkali gak bisa pulang bareng karena alasan club basketnya, makanya gue lebih sering pulang sama Tirta, ternyata Tirta itu kalau udah kenal ramah yah, dulu dia jutek banget sama gue,,
“Mau ngomong apa Tir?” tanya gue penasaran.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lo, tapi gak di sini, jam 7 malem gue tugu di kafe biasa” ucapnya yang kemudian berlari terburu-buru, dan gue Cuma bengong liat tingkah anehnya,
Selesai acara wisuda, gue mencoba mencari sosok yang selalu ada buat gue, siapa lagi kalo buka Tara, “Taraaaaaa....” teriakku memanggilnya dan menghampirinya.
“Motoin apaan sih? Sibuk bener?” tanyaku sedikit agak kesal karena merasa di cuekin gitu dweh, hhmmm...
“Ini, gue lagi ambil beberapa poto buat dokumentasi, lo kan tau, kalau gue salah satu panitia di acara wisuda ini,,, “ jelasnya.
Kemudian, cckkkrrkk...”ih apaan sih lu, moto gue ga bilang-bilang” kesalku plus malu kali yah,
“hehehe,,, sorry, abis lo cantik hari ini, jarang-jarang kan cewe yang serada tomboy kayak lo bisa secantik ini” goda Tirta dengan tersenyum simpul . “besok gue mau pindah Tri” jelasnya sambil sibuk mengambil beberapa poto.
“Apa? Pindah kota? Maksud lo Apa sih?” tanyaku yang bingung “ga usah bercanda deeehh,, ga lucu tau” ucapku sedikit imut mungkin yaahh.
Mendengar perkataan gue, Tara menghentikan akitivitas memoto nya, suasana hening sejenak
“besok, gue bakal pindah ke Singapura, gue bakal kuliah di sana, lo tau kan orang tua gue ada di sana”jelasnya
“gak, gak mungkin, lo becanda kan Tar... Tara ini gak lucu, lo tau kan kondisi gue kayak apa? Gue cuma punya lo di sisi gue, dan sekarang lo ngomong apa? Pindah?... gue.. ucapku menahan tangis  “gue kira, lo beda sama mereka, ternyata lo sama aja kayak mereka, Cuma mikirin diri sendiri, EGOIISSS, gue kecewa sama lo” kesalku yang membuatku berlinang airmata, dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Kring kring kring ... ada telepon masuk, angkat dwonk nanti keburu gariingg... (nada sambung HP Tri berbunyi) 
“Halo,,, Tri?” sapa Tirta “Gue udah mau sampai di kafe, lo udah di mana?” tanyanya
“oh... mmm, ma’af yah tir, gue mungkin agak telat ke sananya, gak apa-apa kan?” tanyaku menahan tangis,
“suara lo koq, agak serak sih, lo baik-baik aja kan?” tanyanya lagi.
“mmm” gumamku
“ya udah sampai ketemu di kafe yah Tri...”ucapnya
“mmm” gumamku kedua kali dan menutup telepon dari Tirta, suasana kembali hening, gue baru nyadar kalo waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan gue masih di ruang tamu duduk entah sudah berapa jam, pakaian wisudapun masih gue pake, sebenarnya ingin sekali aku menyendiri di rumah seharian, toh besok juga udah gak ada kegiatan sekolah lagi, tapi gue udah terlanjur janji sama Tirta, gue pun mencoba untuk menggerakan tubuh yang terasa lemas ini, mengganti pakaian dan menutupi kesedihan di wajah dengan beberapa polesan make-up.
“ Triiiii,,,, sini” teriak dari kejauhan. Dan gue pun menghampirinya
“ma’af yah Tir, udah nugu lama” ucapku
“gak apa-apa” jawabnya sambil tersenyum “oh iya, lo mau mesen apa? Udah makan belom, mau mesen makanan berat atau mau cemilan aja?” lanjutnya.
“traktir yaaahh” pinta ku mencoba sebisa mungkin untuk terlihat bahagia. Meskipuunn, sebenarnya ada luka yang amat dalam di sini.
“tenaaannggg,,, hari ini lo mau makan apa aja gue trakti deh” jelasnya
Kamipun memesan apa yang kami makan, mengobrol sambil menunggu pesanan datang...
“wuuuahhh,, enak nih,, nyuummyyy,,,” celotehku
“makan lo banyak juga yah Tri sampe mesen 3 menu sekaligus” ucap Tirta
“hehe, kata orang makan banyak itu bisa ngilangin stress” tuturku
“stress? Emang lo lagi stress  Tri?” tanya Tirta keheranan
“ehhh,, aaahhh, ya enggaklah, gue gak stress koq malah otak gue fresh banget karena akhirnya gue  lulus  SMA juga” jelasku sambil menyantap mie ayam super..
“Owwwhh, begitu toh, oke, untuk merayakan kelulusan kita, lo boleh  tambah pesenan apppa aja, yang lo mau” tuturnya penuh semangat.
“hehe, gak ah! ini udah cukup koq, gue gak mau traktiran pertama dari lo jadi traktiran terkahir dari lo juga” sindirku nyengir.
Hhhuuufftt, setidaknya masih ada Tirta, terima kasih Tirta untuk malam indah nya
“Udah sampe nih” ucapnya. Tirta pun membukakan pintu mobil nya untukku. Hahaha berasa princess deh gue,
“makasih yah Tir” pelanku dan menuju rumah.
“Tri..”panggilnya “eemmmm,,, ini buat lo” ucapnya
“apa ini?...” bingungku “loh ini,,,, bukannya ini coklat..”ucapku yang terputus oleh ucapan Tara
“Yup... ini coklat waktu kita masa kecil dulu, lo inget gak, anak kecil yang nangis depan rumahnya terus lo kasih coklat biar anak itu gak nangis lagi, anak kecil itu sekarang ada di depan lo, TTri“ tuturnya
“jadi, lo itu anak kecil yang pernah gue kasih coklat dulu, haha, ternyata dunia itu sempit yah, koq lo baru kasih tau gue sekarang sih?” ucapku yang bercampur senang dan juga heran.
“mmm, sebenarnya gue mau kasih tau lo, tapiiii,,, gue nyari waktu yang tepat aja, buat ngasih tau lo,” tuturnya. Suasana hening sejenak, hanya ada senyum di wajah gue dan dia, “mmm, lo tau gak, semenjak lo ngasih coklat itu, gue berusaha untuk gak terpuruk  lebih lama, sebenarnya waktu itu ibu gue meninggal karena sakit, saat itu gue cuma bisa nangis, dan lo datang bagai peri memberi beberap coklat, entah kenapa sejak itu gue mulai kepikiran tentang lo, mulai menunggu di depan rumah berharap lo bakal muncul lagi, sampai akhirnya gue pindah ke sini dan ketemu lo, awal ketemu lo sebenernya gue ngerasa kalau lo itu peri gue, tapi gue butuh bukti, itu kenapa gue sengaja minjem chasan ke lo, karena gue pingin tau lo itu bener peri kecil gue atau bukan, sampai akhirnya gue ngeliat poto masa kecil lo dulu, makanya sekarang....” jelasnya
“tunggu deh, poto masa kecil gue? Emang Lo liat di mana gitu? Heranku yang memotong penjelasannya.
“hehehe,,, ada deh, rahasia, “ ucapnya tertawa usil “mmmm, Tri, gue udah lama nungguin lo, bagi gue lo itu peri kecil gue dari dulu sampai sekarang, jadiiiii... lo mmmaaauu gggaak jadiiii ppaaccaar gue?” pintanya
DOR DOR DOR... OH MY GOOD, cowo seganteng Tirta nembak gue, berasa dapet durian runtuh gue, tapi dagingnya duank yah enggak sama kulitnya, please gak usah dibayangin sama kulitnya. Mmm...meskipun gue gak tau CINTA ITU APA? Tapi gue berusaha yakin kalau cinta itu adalah sesuatu yang indah, dan jawaban gue “Hu’um, gue mau jadi pacar lo Tir” jawabku yang membuat Tirta sangat kegirangan,
“Oke, peri kecilku, selamat malam, mimpi indah yah” ucapnya mengecup keningku dan pergi berjalan mundur ke arah mobilnya, tak henti-hentinya dia tersenyum, senyum yang manis...
Gue pun masuk ke rumah, entah kenapa ketika aku menutup pintu, ketika itulah aku membuka pintu ingatanku tentang Tara, sedang apakah dia, apa dia sedang berkemas? Atau mungkin masih di sekolah? Atau mungkin dia sudah tidur karena seharian memotret? Gue lihat hp, tak ada sms darinya. Lo tau kan apa yang barusan terjadi??? Gue baru aja di tembak, gue baru punya pacar, dan beberapa menit yang lalu gue adalah orang yang paling bahagia, tapi tapi kenapa sekarang gue? Gue ngerasa sedih,,,

2 Tahun kemudian....

“Udah siap?” Tanya Tirta via telepon
“Udah nih” jawabku
“Okeh gue ke sana yah jemput lo” ujarnya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, udah 2 tahun gue jadian sama Tirta, ke mana-mana kami selalu berdua, pergi pulang kampus, ke tempat kerja magang, bahkan mau makan siang aja kita mesti barengan, hahaha, udah kayak anak kembar yah, hhmmm meskipun udah jalan 2 tahun pacaran kami tidak punya panggilan sayang, jadi masih gue lo aja, tapi meskipun begitu kami merasa lebih akrab, bersama Tirta gue bisa ngelupain Tara yang sampai sekarang tak pernah ada kabarnya, Tirta juga gak pernah cerita tentang sepupunya itu, karena gue juga gak pernah nanya tentangnya bahkan menyebut namanya juga tidak, tapi kenapa ketika gue sendiri, pikiran gue terpenuhi oleh kenangan tentang Tara. Sebenarnya gue bingung, gue itu cinta atau gak sama Tirta karena sampai detik ini gue masih tidak bisa mendefinisikan Apa itu Cinta? Yang jelas saat ini gue ngerasa bahagia bersama Tirta, sampai akhirnya waktu dengan tega memakan semua kebahagiaan itu..
“Tir, lo bisa anter gue, buat ngirim pesanan kue gak?” pintaku
“mmm,, duh gimana yah, sorry nih Tri, hari ini gue gak bisa, gue mesti ketemu klien pertama gue nih” jelasnya
“wow. Bagus donk, akhirnyaa,,, selamat yah Tir, okeh deh, nanti gue minta dibantu sama Dira aja, good luck yah Tir, semangaaaatttt....” ceriaku
“makasih peri kecilkuuuuu,,,,muacchhh” manjanya dan menutup telepon dariku.
Yah mau gak mau gue mesti minta bantuan Dira sahabat gue di kampus, sebenarnya sih dari SMA kita udah temenan tapi baru deket pas masa kuliah, maklumlah dulu SMA gue fokus sama Tara and Tirta, tuh kan Tara lagi Tara lagi....huft
Setelah mengantarkan pesanan, gue mampir ke kafe sekedar membeli cemilan dan jus untuk gue dan Dira, pesanan pun langsung dibungkus, tak disangka gue ngeliat sosok yang gue kenal sedang asyik bermesraan,,, syoook? saking syooknya sampai kasir sedikit berteriak untuk meminta pembayaran, karena teriakan yang sebenarnya sedikit itu, membuat beberapa orang melihat ke arah gue, termasuk dia,,, kami saling tatap, gue gak percaya, 2 tahun lalu yang gue bilang berasa ketiban durian, hari ini gue ketiban lagi tapi beserta kulit-kulitnya rasanya sakit sekali, gue pun bergegas pergi dari cafe itu, sumpah itu hal yang tersakit yang pernah gue rasa,
“Triiiiii,,,,, tunggguuuu” kejar Tirta dan akupun berhenti
“Tri dengerin guee,,, gue sama cewe itu gak ada apa-apa, dia itu klien pertama gue, sumpaahhh” jelasnya meyakinkan
“klien? Klien lo bilang? Emang ada pertemuan klien sambil pegangan tangan begitu? ADDAA? HUH?”Amarahku bercampur tangis
“OK, sorry, gue tau, gue salah, tapi dia klien pertama gue Tri, kalo gue bisa yakinin tuh klien tentang prospek gue, gue bakal diterima jadi karyawan tetap di perusahaan gue magang...ya emang sih, dia itu agak sedikit genit dan dia bilang dia suka sama gue,,, tapiii.... gue”
“gue apa? Suka juga? IYAAAA” potong ku  yang mencoba melepaskan cengkraman tangan Tirta dan berlari menangis
“Triiiii awassss.....” teriak Tirta
BRUUUUUGGGHHH....