Sabtu, 05 September 2015

CINTA ITU APA? (END)



Dunia yang hitam...
“Triii? Lo udah sadar?” tanya Tirta dengan nada pelan, suaranya samar sekali di telingaku.
“Gue di mana Tir?” tanyaku parau.
“Lo,, di rumah sakit Tri” jelasnya yang mengingatkanku pada kecelakaan itu tapii,,,
“koq rumah sakitnya gelap Tir, mati lampu yah?” bingungku.
“Sebentar yah, gue panggilkan dokter dulu” izinnya.
Tak lama kemudian,
“Sebentar yah mba Tri, saya periksa dulu matanya” ucap seseorang, yang kupikir mungkin dia dokter
“Dokter, mata saya kenapa? Kenapa gelap sekali?” parauku yang mulai takut dan menangis “Dok, tolong nyalain lampunya, Tri gak bisa liat, Dokteeer,,,, nyalain lampunyyya, Tir, tolong nyalain lampunya,,, gelap Tir,,,,”pintaku sambil menangis, “tenang Tri, tenang, lo pasti sembuh...”ucap Tirta mengusap dahiku.
“Mas Tirta, bisa kita bicara dulu sebentar di luar” pinta Dokter.
“Triii, lo tunggu di sini yah, jangan takut, sebentar lagi lampunya pasti nyala” jelas Tirta.
Tirtapun meninggalkan gue dan mengobrol dengan dokter, entahlah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang jelas, sekarang gue sadar kalau dunia gue menjadi gelap...
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat lagi dan lagi, kalau gue hitung hari ini hari ke 10 dalam dunia gelap.
“makan yah Triii,,, biar lo cepet sembuh” pinta Tirta
“sembuh? Lo tau kan gue itu gak bakalan sembuuuuuuhhhhhh Tir.... gue itu buta Tir, BUTTTTAAAA....” teriak gue melempar makanan yang di berikan Tirta di pangkuan gue. Rasanya, gue udah gak bisa hidup lagi, buat apa gue hidup kalo gue buta, buat apa???


Dunia terang ku berikan padamu
“Halo? Tara?” Sapa Tirta “Tar, please lo balik ke Indonesia, gue udah gak tau lagi harus gimana ngadepin Trii, berkali-kali dia coba bunuh diri, dia udah gak mau makan sama sekali, Tara, gue mohon sama lo, “ mohon Tirta terisak tangis.
Sudah lama rasanya tidak menginjakkan kaki di rumah ini, masih sama tapi ada beberapa ruang yang direnovasi, terlihat seorang wanita duduk termenung di atas kursi rodanya, wajahnya pucat dan tirus, badannya terlihat kurus sekali. Akupun menghampirinya, duduk di hadapannya, mencoba untuk menahan tangis, menyentuh wajah tirusnya, melihat tatapannya yang kosong, tanpa berkata sepatahpun dia mulai meneteskan airmata, aku pun memeluknya untuk menguatkannya,
“Tara.....” sedihnya
“Iya, ini gue Triii, gue Tara....”ucapku “Sorry, gue baru datang sekarang.............”lanjutku menahan airmata.
“Tara, gue takuuuuuttt,,,” tangisnya memecah keheningan.
“Lo gak usah takut Tri, ada gue di sini, gue gak akan bakalan ninggalin lo lagi, oke!” jelasku mencoba menenangkannya.
“Tar...” sapa seseorang memecah keheningan tangis kami.
Tanpa pikir panjang, BUGG... akupun langsung memberikan hadiah yang cukup untuk membuat mukanya memar, “bajingan lo, Tir!” kesalku, “gue udah bilang sama lo, jaga Tri baik-baik, tapi apa? APPA? Lo liat dia, HUH, lo liat dia, HUUUH!!!” teriakku sambil menarik kerah bajunya, diamnya Tirta membuat kesalku semakin meluap tapi aku tak bisa memukulnya lebih dari itu, “AARRGGGGHHHHH” kesalku.
“Cukup Tar,, Cukup,, hiks hiks” ucap Tri sambil menangis “gue mau istirahat Tar, tolong anterin gue ke kamar, dan lo Tir, lo gak perlu ke sini lagi” pintanya menahan isak tangis.
“lo tunggu di sini, urusan kita belum selesai” ucapku pada Tirta yang jatuh terkulai akibat pukulanku, dan akupun mengantarkan Tri ke kamarnya.
Tak butuh waktu lama, Tripun tertidur lelap, terlihat sekali di wajahnya dia begitu lelah dan ketakutan, akupun mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangannya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang hingga akhirnya dia dapat tidur dengan tenang, setelah itu, aku menghampiri Tirta yang sedang duduk di ruang makan, mencoba untuk mengobati luka bekas pukulanku,
“sini, gue bantuin” ucapku yang melihat dia sedang kesusahan mengobati dirinya sendiri. Selama pengobatan suasana menjadi hening dan terasa kaku sampai akhirnya,  
“ma’af” ucapnya memecah keheningan, “gue gak bisa tepatin janji gue” sesalnya. Gue cuma bisa diam dan terus melakukan pengobatan pada wajahnya yang mulai terlihat bengkak, “kata dokter, Tri masih punya harapan untuk melihat lagi dengan jalur operasi, auw” jelasnya terputus karena menahan sakit di wajahnya, “tapi dia butuh pendonor mata untuk bisa melihat lagi” sambungnya
“ya udah, kalo gitu donorin mata lo buat Tri” cetusku yang membuatnya terkejut “kenapa? Lo takut?” ketusku “cih, baru rencana aja, lo udah takut, apalagi Tri” kesalku dan melampiaskan kekesalanku pada wajahnya yang sedang kuobati
“auuwww,, pelan-pelan kenapa? Sakit tau, sini, biar gue yang ngobatin sendiri” pintanya. Sikap kekanak-kanakan dan manjanya Tirtalah yang membuat aku tak bisa memarahinya, aku hanya berpikir wajar, dia bersikap seperti itu karena dari kecil dia sudah ditinggalkan oleh ibunya dan ayahnya alias pamanku sibuk bekerja.
“lo tau kan Tar, gue udah lama mencari sosok Tri dari waktu gue kecil, bagi gue dia itu peri kecil yang udah menyelamatkan gue dari keterpurukan setelah nyokap ninggal, gue terus berpikir positif sejak saat itu, meskipun nyokap udah gak ada dan bokap sibuk kerja, gue berusaha untuk melakukan kegiatan positif dan sebisa mungkin tidak menjadi anak yang broken home demi bertemu dia, karena katanya anak baik itu do’anya cepat sekali terkabul, dan benar saja, pas SMA, gue ketemu dia, dan itu adalah hal terindah yang Allah SWT kasih ke gue, awalnya gue ragu, apa mungkin gue masih suka sama dia? Secara lo tau kan awal ketemu dia, waktu gue masih kecil banget, and setelah waktu berjalan, ternyata gue sadar, kalau gue emang cinta sama Tri, gue bakal ngelakuin apa aja agar Tri bahagia, gue rela magang kerja di mana-mana demi masa depan kami, meskipun Tri kadang suka kesal dengan kesibukan gue, tapi dia mencoba untuk selalu mengerti gue, nerima gue apa adanya, selalu mendukung gue, sampai akhirnya, ada kesalahpahaman antara gue sama dia yang menyebabkan kecelakaan itu dan sekarang Tri buta, lo tau Tar, bukan Cuma Tri aja yang syok tapi gue juga, andai aja waktu itu gue gak mementingkan klien, mungkin ini gak akan terjadi, gue,,, memang berencana untuk mendonorkan mata gue buat dia, tapi gue juga takut, gue butuh waktu Tar, gue masih ingin melihat Tri ceria lagi, tersenyum lagi” jelasnya.
“tapi Tir, peri kecil lo itu, keadaannya udah berubah, dia sedang berada dalam masa-masa keterpurukan, mana bisa dia tersenyum, yang ada matanya malah nambah bengkak gara-gara keseringan menangis”    tuturku
“Nah, justru itu, gue butuh lo Tar, menurut gue, cuma lo yang bisa buat Tri tersenyum, karena lo udah kenal Tri lebih lama daripada gue, jadi, gue mohon sama lo, buat Tri tersenyum lagi” pintanya.
Sejak hari itu, hari demi hari gue, gue lewati dengan mengurus segala kebutuhan Tri, mulai dari makan dan mengajak dia jalan-jalan, tapi ma’af tidak dengan memandikannya yah, karena aku bukan muhrimnya, kalau soal itu aku serahkan kepada bibi yang udah lama mengurusku sejak orang tua merantau ke Singapore, hehe...
Awalnya agak sulit memang, mengubah mindset Tri yang sedang dalam keadaan terpuruk menjadi berpikir positif lagi, tapi dengan keteguhan dan kesungguhanku, akhirnya sekarang Tri sedikit demi sedikit berubah, dan tidak ingin mencoba bunuh diri lagi tentunya, mulai ada senyum menghias di bibirnya, semangatnya mulai tumbuh, kamipun rajin berkonsultasi dengan dokter dan menanyakan apakah sudah ada donor mata yang cocok atau belum. Lalu bagaimana dengan Tirta? Kalian mungkin bertanya-tanya ke mana dia, yah sebenarnya dia selalu bersama kami hanya saja tanpa sepengetahuan Tri, Tirta selalu berkunjung tanpa berucap satu katapun, karena kalau dia berbicara Tri pasti akan mengusirnya lagi dan lagi, melihat kesungguhan Tirta yang mencintai Tri, membuat aku sadar, Tri lebih membutuhkan orang yang seperti Tirta daripada sepertiku, sudah saatnya mereka berdua bahagia.
“Taraaaaaaaa,,,,,, “ panggil Tirta, “akhirnya kita dapat pendonor, barusan dokter nelpon gue, katanya ada pendonor mata yang cocok buat Tri” tuturnya senang, dan akupun hanya tersenyum melihat tingkahnya, “Triiiiiii,,, akhirnya, gak lama lagi kamu bisa melihat, sayang” ucapnya sambil mengecup kening Tri dan memeluknya, Tri pun hanya bisa menangis bahagia dalam pelukannya, menurutku, itu adalah moment yang bahagia yang gak bakal terlupakan.

Duniaku terang kembali
“1, 2, 3...... Tadaaaaaaaa, Surpise” ucap Tirta memberikan suprise padaku di hari keduaku untuk melihat dunia, terang dan jelas, buatku ini adalah anugerah-Nya yang terindah,
“Wuaaaahhhh,,,,, iniiiiiiiii” ucapku yang terputus karena kekagumanku pada suprise Tirta yang berisikan potographi ku mulai dari kecil hingga sekarang yang ia gantungkan layaknya menggantung jemuran di tambah beberapa lilin kecil menghiasi taman membuat suasana romantis dan indah sekali, jujur ini adalah hal teromantis yang pernah gue alami, (ya iyalaaahhh,, secara lo kan emang gak pernah punya pacar selain Tirta,,, hahaha) hehe,  “ Tirta,, ini baguuuuss banget, semua ini ide lo?”
Tanyaku yang masih dengan rasa kagum.
“mmm,,, yup” singkatnya membenarkan pertanyaanku “mmmm.... Tri, gue,,, mmm,, lo,,, mmm” ucapnya yang sedikit ragu.
“lo tuh kenapa sih Tir? A e a e, mmm, apa? Lo mau ngomong apa sama gue?” heranku sambil tersenyum karena kelakuannya.
“mmm, Tri, lo kan tau, gue sebenarnya udah kenal lo sejak kecil, dan sejak saat itu gue suka sama lo dan rasa suka itu berlaku samapi sekarang, lo selalu ada buat gue, selalu mendukung gue, nerima gue apa adanya, jadi.... lo mau gak jadi pendamping hidup gue?” pintanya sambil bersimpuh layaknya pangeran dan mengajukan sebuah cincin di depanku, mungkin jika kau jadi diriku, kau pasti bakal bilang ya ya aku mau, mau banget pangeran, (haha,, ya iyalah, mana ada cewe yang bisa nolak lamaran seromantis itu!)
Tappppiiii tidak denganku, pikiranku mulai tidak fokus setelah aku melihat beberapa poto tempat rahasia antara aku dan Tara, dan baju yang aku kenakan dipoto itu, bagaimana bisa? Bukankah Tara waktu itu ada di Singapore? Siapa yang mengambil Foto itu, apa mungkin Tirta? Apa Tara memberitahukan tempat rahasia kami pada Tirta, itulah yang ada dipikiranku saat Tirta mengajukan lamarannya padaku,
“Tir, mmm, sory, sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue mau tanya, lo dapet semua poto ini dari mana?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Oh, iniii, mmm, gue dapat semua poto ini dari Tara, dia kan....” tutur Tirta yang terputus oleh pertanyaanku “di mana dia sekarang?” “dia lagi di rumah, mungkin sedang berkemas-kemas karena besok dia mau kembali lagi ke Singapore, tapi memangnya kenapa Tri?” herannya.
“Sorry Tir, gue gak bisa nerima lamaran lo, gue harus pergi....”singkatku sambil terburu-buru pergi. Selama dalam perjalanan ke rumah Tara, banyak pikiran-pikiran ku yang muncul mengenai kami berdua, dia yang menemaniku dan menyemangatiku sejak SMP, dia yang pergi ke Singapore tapi sebenarnya dia sering mengunjungiku tanpa sepengetahuanku, dia yang buat aku bangkit dari masa keterpurukan saat aku buta, dia yang selalu memberikan senyum dan membuatku tersenyum dan dia....
“Tarraaa,,,” panggilku sesampainya di rumah Tara, ternyata kebiasaan Tara dan Tirta menular kepadaku yaitu maasuk rumah orang tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Aku pun masuk dan mencari ke seluruh ruangan, kamarnya Tara menjadi pencarianku yang terakhir.
“Tarraaa??” saat ku buka pintu kamarnya yang memang sudah agak terbuka, aku melihat sesosok pria bertubuh tegap sedang berdiri menghadap jendela  yang sebesar pintu, yah dia adalah Tara, entah apa yang sedang dipikirkannya, hingga dia berdiri di sana, dan hal itu menambah daftar pertanyaan yang sudah mulai penuh dikepalaku mengenainya.
“Tarra?” sapaku pelan dan mulai mendekatinya perlahan, dia tak menjawab sapaanku,
“Tarra? jangan pergi” pintaku sambil memeluknya dari belakang, namun dia hanya diam dan suasanapun menjadi hening. “Tarraaa, gue gak mau lo pergi” pintaku untuk kedua kalinya, tanpa berkata apapun dia melepaskan tanganku dari pelukannya,
“Tara, liat gue, please jawab gue, lo gak bakal pergi lagi kan?” pintaku untuk ketiga kalinya, “Tarraaaaa,,, li” ucapku terputus ketika mencoba membalikkan tubuhnya dan melihat kondisi Tara yang berbeda, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa mungkin... “Jadi... ini... hiks hiks, alasan lo bakkal... pergi lagi ke Singapore?” ucapku mengalirkan air mata, “kenapa?... Kenapa lo mau berkorban buat gue, kenappaa?” ucapku yang masih menangis dan dia mencoba memelukku.
“sorry Tri, gue cuma mau lo bahagia sama Tirta, gue gak mau liat lo sedih, mata ini gak berarti apa-apa dibanding kebahagian lo” jelasnya.
“tapi... gue sayangnya sama lo, Tara, gue cinta sama lo, bukan sama Tirta, gue cuma mau hidup selamanya sama lo, please jangan pergi, jangan tinggalin gue lagi” pintaku untuk ke sekian kalinya.

Cinta itu ini
2 bulan kemudian
“wuaahhh,,,lihat!  siapa ini? Cantik sekali,  jadi ngiri dweh” ucap Dira. Dan akupun hanya tersenyum
Yup, hari ini adalah hari terindah bagi aku dan Tara, setelah bersusah payah untuk mendapatkan pendonor mata yang cocok bagi Tara, akhirnya kami meresmikan hubungan kami di depan semua orang.
“Selamat yah Tri.....”ucap seseorang.
“Kak Irnaaaaa,,,,”senangku dan memeluknya dengan erat.
“wuaaaahhhh, lama tak jumpa, adikku cantik sekali”  ucap seorang lelaki  yang sedang menggendong bayi mungil, dan itu cukup membuat ku terkejut riang.
“Kak Tiooooooooo,,,, “  ucapku, yang ingin memeluknya tapi terhalang si bayi mungil, “innni?”heranku.
“Hallooow tante...” sapa kak Tio mewakili si bayi mungil yang masih belum ahli berbicara, dan itu membuatku terkejut, amat sangat terkejut, ternyata kak Tio sudah berkeluarga dan punya anak, tapi dia tak pernah kasih kabar tentang pernikahannya, karena katanya, papa pasti tidak akan setuju jika dia menikah dengan wanita biasa, sedangkan kak Irna, dia mengalami keguguran akibat kecelakaan setelah peristiwa besar itu, sedih sekali mendengarnya.
Aku pikir tak kan ada lagi hal yang mengejutkan selain kedatangan kedua kakakku, tapi ternyata ada yang lebih mengejutkan lagi dan rasanya ini adalah moment yang gak bakal aku lupakan seperti halnya moment 17 Agustus, kedua orang tuaku datang ke acara nikahanku ini, yaaah meskipun mereka datang dengan pasangan masing-masing (miris yah!!) tapi kami semua merasa bahagia dan akhirnya aku tahu CINTA ITU APA?
Cinta itu pengorbanan, penantian dan juga proses, itu menurut gue, kalo lo? ^_^v

END,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar