THIS is My JoURnEy
blog ini di buat untuk sekedar membagikan kisah hidup, cerita, hingga kalian sebagai pembaca bisa terinsiprasi dan tersenyum ketika membaca cerita cerita yang ada di blog ini, dan insya Allah, karena saya pecinta K-Drama, mungkin saya akan merekomendasikan beberapa K-Drama yang romantis dan juga lucu abis,, hehehe ^_^b
Senin, 12 Juni 2017
THIS is My JoURnEy: Cinta Koq Begitu? (Part 1)
THIS is My JoURnEy: Cinta Koq Begitu? (Part 1): “Nah, ini dia” ucapku setelah menemukan sosok yang aku cari di salah satu media sosial, “Owh... jadi, namanya Bagas Saputra” sambungk...
CINTA KOQ BEGITU? Part 2
Mmmm...coba kita lihat ada berita terbaru apa hari ini?”
ucapku penuh rasa ingin tahu, aku melihat beberapa berita yang terpampang dalam
facebook ku, dan mengecek forum pertemanan, ternyata ada beberapa orang yang
meminta berteman denganku di facebook, dan akupun menerima semua permintaan
itu, yah... meskipun tidak begitu mengenal siapa mereka, tapi setidaknya kami
memiliki teman yang sama dalam dunia facebook. Tapi sepertinya hari ini tak ada
yang spesial.
Seminggu berlalu, setelah lelah menjalani aktivitas
sehari-hari, saatnya bersantai ria di dunia facebook. Tak disangka, tenyata ada
beberapa pesan yang masuk, dan rata-rata wanita, mereka mengucapkan say hai,
dan ada satu akun yang membuatku tertarik, akun dengan foto yang lumayan seram,
menurutku tumben sekali ada cewek yang memasang poto profil seram, biasanya kan
yang sok cute, sok manis atau poto yang paling cantik menurut versi mereka,
karena rasa ingin tahu, akupun menyelidiki pemilik akun tersebut, dan mencari
fotonya, hanya ada beberapa foto yang terlihat dan itu pun foto bersama, pesan pertama
yang dia kirimkan padaku itu “Hai kak Bagas, salam kenal yah” akupun membalas “iya, salam kenal juga yah,
hehe” .
Aku pikir, dia hanya basa basi padaku seperti wanita
lainnya, tak kusangka, obrolan di pesan facebook itu berlanjut setelah hampir 1
bulan lamanya, ternyata dia adalah adik tingkatku, namanya Fatma, jujur saja
ada sedikit rasa penasaran dan ingin bertemu dengannya tapi aku takut, jadi aku
mengabaikannya, sampai akhirnya dia ingin meminjam buku paket dariku, dan kami
memutuskan untuk bertemu, dia meminta nomor teleponku.
Hari pertemuan tiba, saat ini aku merasa gugup, apa yang
harus aku katakan kepadanya, apakah aku harus berkata “hai” atau “apa
kabar?” atau “senang berjumpa denganmu” atau... ah banyak sekali
perkataan-perkataan yang terlintas di kepalaku. Tapi ya sudahlah, aku tak mau
memikirkannya, syukur-syukur kalau tidak jadi bertemu, abis bingung mau ngapain
nanti kalau ketemu. Setelah sholat dzuhur, aku mulai bergegas kembali ke kampus
karena kelas akan segera di mulai dan aku tak ingin terlambat, untuk kembali ke
kampus aku harus melewati kantin jurusan, karena itu adalah jalan alternatif
agar cepat sampai kelas, dan seharusnya sih, kantin ini adalah tempat janjian
kami, meskipun terburu-buru, aku sempatkan untuk melihat sekeliling, siapa tau
dia menungguku di sini, tapi tak ada satupun yang melihat ke arahku, sampai
akhirnya, “Kak Bagas...” seseorang menoel bahuku dari belakang ketika aku sudah
melalui kantin itu, aku pun menoleh dan melihat sesosok wanita tinggi kurus dan terlihat cantik yang
membuatku sedikit canggung.
“
Kak Bagas kan? Dipanggilin dari tadi, gak nyahut-nyahut” kesalnya.
Melihat
perilakunya membuatku ingin tertawa namun aku harus jaga image karena ini
pertemuan pertama kami “mmassa sih?... Ma’af gak kedengaran, abis, lagi
buru-bur u sih, mau masuk kelas“
Ucapku.
“Ohw,
tapi bukunya dibawa kan?” tanyanya.
“mmmm...dibawa
gak yah?” godaku sambil mengecek ke dalam tas, padahal sebenarnya aku juga
sudah mempersiapkannya “wah,,, kayaknyaaa, mmm.. oh ini, dibawa ternyata”
ujarku setelah lama mengorek-ngorek tas dan mencari buku yang dimaksud,
kemudian akupun menyerahkan buku itu padanya,
“eh iya, ma’af yah, gak bisa ngobrol lama, mau ada kelas bentar lagi”
singkatku agak sedikit canggung.
“iya”
jawabnya mengangguk dan tersenyum.
Akupun
pergi meninggalkan dia dan menuju kelas bersama temanku, selama perjalanan menuju kelas.
“cieeee,,,
siapa tuh? Mangsa baru yah? Cantiq” goda temanku.
“bukan
siapa-siapa” jelasku sambil tersenyum.
Setelah hari pertemuan, Fatma sering sekali mengirimkanku
sms, meskipun aku tak selalu membalasnya karena aku bingung harus membalas apa,
jadi aku mengabaikannya. Tapi ternyata Fatma begitu gigih mendekatiku dan jujur
saja, dia wanita yang pertama berperilaku seperti ini padaku, buatku dia terlalu
agresif. Lagi pula, untuk saat ini ada wanita yang aku sukai dari pertama kali
aku mengenalnya, namanya Rika dan kami sangat akrab sekali seperti kakak adik,
sayangnya dia sudah memiliki tunangan, jadi aku memendam rasa itu sampai
sekarang.
Hari demi hari telah berganti, Fatma sering mengajakku
untuk bertemu tapi waktu tak pernah berpihak pada kami untuk melakukan
pertemuan itu, pernah suatu hari dia mengajakku untuk bertemu di masjid dekat
kampus, aku sudah berada di sana, tapi dia belum datang, aku bertanya apakah
jadi bertemu, dia menjawab iya, tapi tak lama kemudian aku mendapat telepon
dari rumah untuk segera pulang dan akupun membatalkan pertemuan itu, karena
kami tak pernah memiliki waktu untuk bertemu, dia hanya mengirimkan sms-sms
yang membuatku bingung, karena isinya bukan menanyakan aku sedang apa atau di
mana, kadang dia mengrimkan lirik lagu, kadang hanya menyapa “Bagas jelek”
atau terkadang dia menceritakan tentang harinya, kesedihannya, rasa bete dan
kesalnya, sehingga aku tak tahu bagaimana membalas sms-sms itu, tapi setidaknya
dengan adanya dia, hidupku tak terasa sepi, karena hpku selalu berdering
berkatnya, namun dia tak pernah
sekalipun menelpon padaku, padahal sebenarnya aku sangat ingin mengobrol
dengannya meskipun dia bukan orang yang aku sukai tapi berteman dengannya
mungkin akan mengasyikkan, pernah dia menelepon dan aku mengangkat telepon itu
tapi dia tak pernah mau berbicara, dia hanya diam mendengarku berbicara, setelah
itu dia menutupnya. Ingin rasanya aku menelpon kembali tapi aku tak punya pulsa
dan aku juga bingung akan berkata apa nantinya.
Sudah beberapa bulan kami berteman meskipun tak pernah
bertemu dan hanya via sms saja, itu cukup menyenangkan bagiku, tapi aneh
rasanya, entah kenapa ketika kami berpapasan dia tak pernah menyapaku, dia tak
pernah melihat ke arahku, sebenarnya aku ingin menyapanya tapi aku malu, aku
takut nantinya dia akan mengabaikanku. Oleh karena itu, ketika kami bertemu
kami seolah-olah tak saling kenal, anehnya lagi dia pernah membahas hal itu via
sms, dia mengatakan “ma’af tak pernah bisa menyapamu karena malu, dan ma’af
kalau sikapku berbeda 180 derajat antara dia di dunia maya dengan dia di dunia
nyata” , menurutku dia itu unik.
Tapi, meskipun dia itu unik, aku belum menyukainya, malahan
aku semakin dekat dengan wanita yang aku sukai dan aku menyukai pemendaman rasa
ini untuknya, kemana-mana kami selalu berdua sehingga Rika mengetahui tentang
Fatma tanpa sengaja, dia bertanya tentang siapa itu Fatma? akupun
menceritakannya. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, aku malah ingin Rika
mengenal Fatma, aku ingin mengetahui bagaimana reaksi Rika ketika sudah
mengenal Fatma, dan kebetulan hari ini aku ada janji bertemu dengan Fatma,
namun karena kondisiku yang masih sibuk aku meminta Fatma untuk menunggu tapi
aku tak punya pulsa untuk mengabarinya, akupun sengaja meminta tolong Rika
untuk memberitahukannya. Kupikir Fatma
akan menunggu, tapi ternyata dia tak sabar menungguku, dia hanya memberitahuku
via sms bahwa dia pulang duluan,
Malam harinya, dia
mengirimkan sms padaku
“selesai jam berapa tadi?” “jam 5 an” “owh, aku boleh
nanya gak?” “nanya apa?” “Riska itu siapa? Pacar kamu?” “bukan, dia Cuma temen”
“owh, koq dia bisa tau aku, memangnya kamu cerita apa sama dia?” “gak cerita
apa-apa kebetulan tadi bareng sama dia, cuma Bagas kan tadi agak sibuk jadi
minta tolong ke dia buat nemenin kamu” “owh, okeh”
Begitulah percakapan kami via sms, sejak hari itu entah
kenapa, Fatma selalu menyangka wanita yang bersamaku dan kerap kali bercanda
denganku adalah orang yang aku sukai,
dia juga pernah bertanya apakah aku memliki orang yang aku sukai, aku bilang
padanya memang siapa yang mau denganku, aku begitu takut jika aku jujur padanya
dia akan pergi meninggalkanku, jadi aku tak pernah menjawab
pertanyaan-pertanyaannya seputar cinta, meskipun begitu pada akhirnya dia
mengetahui siapa wanita yang aku sukai, dan dia malah menyemangatiku untuk
bepacaran dengan wanita itu, aneh bukan, sikapnya seolah dia menyukaiku tapi
dia malah menyemangatiku untuk berpacaran dengan wanita lain.
Suatu hari dia pernah memintaku untuk menjadi pacarnya
meskipun tawaran itu di ajukan lewat sms, tapi kupikir ini terlalu mendadak,
apakah dia benar serius atau hanya bercanda, karena sepengenalanku dia bukanlah
orang yang serius, aku pun tak membalas sms itu lantaran aku bingung harus
membalas apa, sampai akhirnya dia menelepon.
“lagi di mana?” tanyanya
“di rumah, kenapa?” jawabku
“koq smsnya gak di balas sih?” tanyanya lagi
“ sms yang mana?” godaku,
“yang itu tuh...” malunya
“yang mana?” godaku lagi sambil menahan tawa
“ihhh,,, ya udah lah” kesalnya. Suasana menjadi hening
sejenak “aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” tuturnya yang
membuat aku kaget dan tak tahu harus berkata apa “halllloooww...” tegurnya,
jujur aku senang mendengar pengungkapan perasaan itu, dia adalah wanita pertama
yang berani mengungkapkan perasaannya padaku, tapi aku masih memiliki luka hati
dan aku masih menyimpan rasaku untuk Riska. Oleh karena itu, aku hanya bisa
bertanya padanya “koq bisa suka?” “ya suka aja” “yakin mau pacaran?” “yakin”
“tapi kamu kan belum tau aku itu orangnya kayak apa” “emang kamu itu orangnya
kayak apa?” “emang pacaran itu ngapain aja sih?” “yah ngapain aja, gak tau deh”
“terus?” “hhhmm, ya udah deh gak jadi” tuturnya yang langsung menutup
teleponnya. Aku hanya bisa diam setelah percakapan kami, sampai akhirnya dia
mengirimku sms “Bagas jahat” .
Waktu berlalu, aku pun tak pernah mendapat sms lagi dari
Fatma dan kupikir begini lebih baik, daripada Fatma akan tersakiti olehku, ku
pikir Fatma tak akan mengirimiku sms lagi, tapi ternyata “Bagas jelek, lagi
apa?” itu sms pertamanya sejak hari itu, dia bertanya mengenai KKM itu
kegiatannya apa saja, jujur aku senang karena dia tak memusuhiku seperti
wanita-wanita lain yang pernah singgah di hidupku. Akupun menjelaskan seperti
apa itu KKM yang terkenal dengan cinta lokasinya, tapi dia menegaskan bahwa dia
tak akan selingkuh, dia akan setia padaku, aku tak begitu yakin tentang hal itu,
oleh karena itu, aku tak berkomentar apa-apa.
Beberapa hari berlalu, KKM Fatma pun dimulai, dia pamit
padaku via sms, ingin sekali aku mengantarnya atau setidaknya bertemu dengannya
sebelum dia berangkat ke lokasi KKM nya, tapi waktu tak pernah berpihak padaku,
aku hanya mengiriminya sms “hati-hati yah di sana”. KKM memang tak
memakan waktu yang lama, hanya sebulan, selama KKM nya, Fatma seringkali
mengirimiku sms, tapi aku tak pernah ada waktu membalasnya lantaran aku sibuk
dengan PKL ku di Sekolah, kami sibuk masing-masing dan itulah yang menyebabkan
kami saling menjauh, karena setelah 2 minggu Fatma menjalani KKM nya, aku
mendapat kabar bahwa dia sudah berpacaran, sakit rasanya mendengar hal itu, dia, ku pikir dia akan menempati
janjinya padaku, janji itu palsu, aku memang bodoh percaya padanya, aku pikir
dia berbeda, ternyata sama saja, tapi aku tak mau ambil pusing meskipun
sebenarnya hatiku terasa sakit, adanya kejadian ini membuatku mengingat kembali
tentang apa yang pernah dikatakannya bahwa kami tak akan bersama karena kami
sama-sama anak bungsu yang memiliki sikap egois dan gengsian.
Mati satu tumbuh
seribu, ternyata pepatah itu benar, ketika Fatma meninggalkanku, aku malah
bertemu dengan murid yang ceria, Maya namanya, selain anaknya ceria, dia termasuk anak yang asyik untuk diajak ngobrol
meskipun dia masih anak SMA tapi pikirannya sangat dewasa dan bijaksana, sayangnya,
dia berbeda keyakinan denganku, sifat dan pemikirannya yang terbuka membuat aku
menyukainya dan Fatma pun mengetahui kedekatanku dengan Maya, dia bertanya apa
Maya itu pacar baruku? Jika iya, dia mendukungnya, dia menilai bahwa anak itu
cantik dan juga ceria, yah benar, Fatma dan aku memiliki pemikiran yang sama,
orang yang aku sukai, fatma juga menyukainya, terkadang dia bersikap seolah-olah
dia adalah saudara kembarku, dia selalu tahu apa yang aku pikirkan. Karena hal
itulah, kenapa waktu dulu, aku menyukai Fatma dan juga pernah berharap
bersamanya. Tapi sekarang Fatma sudah memiliki laki-laki lain dan akupun tak
ingin merusaknya, meskipun terkadang dia masih suka mengirimiku sms, aku tak
pernah membalasnya karena rasa sakit itu masih terasa, dan aku takut jika aku
akan berharap lebih darinya, jujur saja,
Fatma adalah orang yang menghapus luka cintaku selalu memberiku semangat
atas ketidakpastian cinta, tapi pada akhirnya dia jugalah yang menorehkan luka
di hatiku, meskipun begitu aku tak ingin terlihat terpuruk di matanya, aku
mencoba terlihat baik-baik saja dengan membuktikan bahwa aku juga bisa bersama
yang lain, oleh karena itu aku memposting semua kedekatanku dengan Maya, dan
benar saja, Fatma masih menyukaiku dia gerah melihat hal itu, dan yang ku tahu
dia pada akhirnya putus dengan pacarnya setelah KKM nya berakhir, entah karena
alasan apa.
Setelah 3 bulan
lamanya, PKL ku pun berakhir, begitu juga kedekatanku dengan Maya, Maya tak mau
menerima rasaku, dan aku tak mau membuang waktuku untuk mengejar cintanya,
bagiku sudah cukup kesabaranku menghadapi sikapnya, yah aku salah, seharusnya
aku tak terbawa oleh permainan cinta seperti ini, pada akhirnya aku menyakiti
hati Maya dan menjauhinya, karena hal itu jugalah, Fatma malah menasehatiku dan
menyuruhku berbaikan dengannya, entahlah, sebenarnya apa yang kau mau Fatma?
mengapa kau lakukan ini padaku? aku tak pernah bisa mengerti dirimu, mengapa
kau begitu sulit? apakah kau tahu apa yang aku rasakan? Mengapa kau selalu
perdulikan kehidupan cintaku? apakah kau tak terluka jika aku bersama wanita
lain? Bukankah kau bilang kau menyukaiku, apakah itu hanya omong kosong bagimu?
seandainya dulu, kau mau bersabar, mungkin semuanya tak akan berakhir dan kita
masih bersama-sama, tak bisakah kau dulu menunggu, menunggu untuk memastikan
perasaanku padamu, kau terus berusaha membuatku suka padamu tapi setelah aku
menyukaimu dan memiliki harapan tentang cinta, kau malah menghancurkan harapan
itu dengan memilih bersama laki-laki lain, dan ketika aku mendekati Maya, kau
cemburu tapi kau malah mendukungnya.
Pada akhirnya, beginilah kita yang saling menjauh seiring
waktu berlalu dan kau tak pernah tau apa yang kurasakan padamu.
END
Kamis, 03 Desember 2015
Cinta Koq Begitu? (Part 1)
“Nah, ini dia” ucapku setelah menemukan sosok yang aku cari di
salah satu media sosial, “Owh... jadi, namanya Bagas Saputra” sambungku.
“Gimana?” ucap temanku yang mulai mengambil posisi duduk di
sampingku, “ketemu?” sambungnya.
“Gak tau nih, coba kita lihat poto2nya yah, benar gak yah? Orangnya
ini” ucapku. Kamipun menghabiskan waktu beberapa jam di warnet untuk mengkepoin
orang yang mebuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Ih, manis yah...” ucapku.
“Iya, manis, tapi, coba lihat relationshipnya, jangan-jangan udah
double lagi” ucap temanku. Ah benar! Baru kepikiran, akupun mulai mencari
kata-kata relationship.
“Oh My Good, SINGLE...” girangku.
Semenjak hari itu, aku dan Bagas memulai
pertemanan kami di medsos, dan aku berencana untuk mengajaknya bertemu, tapi
aku bingung bagaimana? Apa alasannya bertemu? Lama berpikir, terlintas untuk
meminjam buku padanya, secara kami dari jurusan yang sama namun berbeda
tingkat, yah dia kakak tingkatku.
“Ini bukunya, sorry gak bisa ngobrol lama, so’alnya sebentar lagi
masuk kelas” tuturnya dan pergi begitu saja. Kejadian itu buatku berpikir “HUH,
begini duank?” tapi tetap saja bertemu dengannya membuatku tersenyum-senyum
sendiri.
Meskipun pertemuan awal kami kurang begitu
meyakinkan, tapi seiring berjalannya waktu kami semakin dekat, sampai akhirnya.
“Fatma yah?” sapa seorang wanita cantik berlesung pipi.
“Iya, kak” jawabku.
“Mau ketemu sama Bagas yah?” tanyanya lagi.
“Iyya” jawabku heran darimana dia tahu kalau aku mau ketemuan sama
Bagas.
“Tadi Bagas titip pesan, katanya kalau mau ketemu tunggu sampai jam
5 sore, so’alnya mau ada workshop, gak apa-apa kan? Bentar duank koq” jelasnya
tersenyum.
“Ya udah yah, oh iya, nama saya Rika” ucapnya memperkenalkan diri
dan meninggalkanku pergi.
“Jam 5 sore? Hhmm, lamanya sekarang aja baru jam 4 sore” pikirku,
“pulang aja, apa yah?” bingungku dan akhirnya aku mengirimkan sms kepadanya “aku
pulang”
Dalam perjalanan pulang, aku melihat sosok
bagas bersama seorang wanita dengan mesranya “loh? Bukannya itu kak Rika yah?”
heranku dalam hati, namun sayang aku tak bisa melihat secara jelas karena
angkut yang aku naiki berjalan cepat,
Rasa penasaranku terbawa sampai rumah, demi menghilangkan
rasa penasaranku akupun bertanya padanya via sms “boleh nanya gak?” “nanya
apa?” “Kak Rika itu siapa?” “teman” “yakin teman?” “ya iyalah, emang kenapa?”
hhhmm akupun berpikir sejenak, iya yah memangnya kenapa? Dan akupun melanjutkan
sms “cemburu tau” “loh, koq bisa?” “tau ah” huaahh, kesal sekali rasanya, dia tak membalas
smsku lagi.
Sejak hari itu akupun mulai curiga, dan tanpa
sengaja aku melihat mereka berduaan, dan semakin lama ku amati, mereka memang
sering jalan berdua, ke sana berdua ke sini juga berdua, masa iya cuma teman?
Sampai akhirnya aku mencoba menelponnya ketika aku melihat mereka sedang
berduaan, dan teleponku di reject begitu saja, oh my good sakit banget rasanya.
Malam hari tiba, aku mengirimkan sms kepadanya “tadi
siang aku telepon koq gak diangkat?” “telepon? Masa sih?” “hhmm, kamu suka yah
sama Rika?”. Setengah jam kemudian “memang kalau suka kenapa?” “gak
apa-apa, cemburu aja” “oh” “terus, kamu udah nembak dia?” “waduw, masa nembak,
yang ada tuh anak mati lah, hehe” “ih seriiuusss..” “gak koq, dia cuma teman” teman lagi? Mana ada teman kayak orang
pacaran. “ya udah besok ketemuan yah” “mau ngapain?” “ketemuan aja, kangen,
hehe.” Diapun tak menjawab smsku lagi, huaahh sedihnya.
Hari pertemuan, menunggunya sungguh
membosankan, jika saja aku tak menyukainya mungkin aku tak kan mau menunggunya.
“Loh, Fatma? Lagi ngapain di sini?” tanya kak Rika, “Haduh! kenapa
ada kak Rika sih?” pikirku “Lagi nuguin Bagas yah?” tanyanya lagi.
“Iya” singkatku pelan.
Tak lama kemudian, Bagas datang, tapi koq sama teman-temannya yah?
“Gimana? Udah pada selesai workshopnya?” tanya kak Rika, “Udah”
jawab salah satu di antara mereka.
“Hai” sapaku pada Bagas,
“Cie-cie, siapa tuh Gas?” tanya temannya menggoda, “Pacarnya bagas
tuh” celetuk kak Rika. Teman-teman bagas hanya mengatakan “OOOwwhh” dengan
serentak dan mengangguk.
Pacar? sejak kapan aku menjadi pacarnya Bagas, memang
sih.. aku suka banget sama Bagas, tapi kami belum resmi jadian, lagian Bagas
juga gak pernah mau jawab, kalau ditanya tentang perasaan, and then kenapa juga
kak Rika mengira kalau aku pacarnya Bagas, bukannya dia yah yang pacarnya
Bagas? Apa mungkin Bagas cerita tentang diriku padanya? Bete deh.
Malam hari, entah kenapa aku ingin sekali
mengirim sms kepada kak Rika “kak Rika, Bagas suka tuh sama kak Rika”
“waduh? masa sih? Hahaha” “iya, kenapa kalian gak pacaran aja? Kalian kelihatan
serasi koq” “mmm, ya gak mungkinlah, lagian kak Rika udah punya tunangan kali,
nanti tunangan kak Rika mau dikemanain?” hah? Punya tunangan? Tapi koq
gitu? “Lagian Bagas itu sukanya sama kamu, cuma dia gengsi aja” Bagas
suka sama aku? Wuaahh tapi koq gitu? Hhhmm jadi penasaran, akhirnya aku
mengirimkan sms ke Bagas “kamu suka sama aku?” lama tak ada jawaban “kalau
suka kenapa? Kalau gak kenapa?” “iihh seriuusss...” tak ada balasan sama sekali.
Aku tak menyangka kalau itu adalah sms-an kami
untuk yang terakhir kalinya, karena tak lama setelah sms itu, aku menerima
cinta dari lelaki lain, karena kupikir dia menyukai kak Rika, sehingga aku harus
move on, namun perjalanan cintaku tak berjalan mulus, baru 1 bulan berjalan,
kami sudah putus, karena aku menyadari, siapa sebenarnya yang aku cintai, ingin
sekali rasanya aku kembali pada Bagas meski hanya sebagai teman, tapi sayang,
usut punya usut ternyata dia telah berpacaran dengan kak Rika. “Ah benar!
Katanya, tak ada yang namanya pertemanan antara lelaki dan perempuan” pikirku.
Sabtu, 05 September 2015
CINTA ITU APA? (END)
Dunia yang hitam...
“Triii? Lo udah sadar?” tanya Tirta dengan nada pelan,
suaranya samar sekali di telingaku.
“Gue di mana Tir?” tanyaku parau.
“Lo,, di rumah sakit Tri” jelasnya yang mengingatkanku pada
kecelakaan itu tapii,,,
“koq rumah sakitnya gelap Tir, mati lampu yah?” bingungku.
“Sebentar yah, gue panggilkan dokter dulu” izinnya.
Tak lama kemudian,
“Sebentar yah mba Tri, saya periksa dulu matanya” ucap
seseorang, yang kupikir mungkin dia dokter
“Dokter, mata saya kenapa? Kenapa gelap sekali?” parauku yang
mulai takut dan menangis “Dok, tolong nyalain lampunya, Tri gak bisa liat,
Dokteeer,,,, nyalain lampunyyya, Tir, tolong nyalain lampunya,,, gelap
Tir,,,,”pintaku sambil menangis, “tenang Tri, tenang, lo pasti sembuh...”ucap
Tirta mengusap dahiku.
“Mas Tirta, bisa kita bicara dulu sebentar di luar” pinta
Dokter.
“Triii, lo tunggu di sini yah, jangan takut, sebentar lagi
lampunya pasti nyala” jelas Tirta.
Tirtapun meninggalkan gue dan mengobrol dengan dokter,
entahlah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang jelas, sekarang gue sadar
kalau dunia gue menjadi gelap...
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat lagi dan lagi, kalau
gue hitung hari ini hari ke 10 dalam dunia gelap.
“makan yah Triii,,, biar lo cepet sembuh” pinta Tirta
“sembuh? Lo tau kan gue itu gak bakalan sembuuuuuuhhhhhh
Tir.... gue itu buta Tir, BUTTTTAAAA....” teriak gue melempar makanan yang di
berikan Tirta di pangkuan gue. Rasanya, gue udah gak bisa hidup lagi, buat apa
gue hidup kalo gue buta, buat apa???
Dunia terang ku berikan padamu
“Halo? Tara?” Sapa Tirta “Tar, please lo balik ke Indonesia,
gue udah gak tau lagi harus gimana ngadepin Trii, berkali-kali dia coba bunuh
diri, dia udah gak mau makan sama sekali, Tara, gue mohon sama lo, “ mohon
Tirta terisak tangis.
Sudah lama rasanya tidak menginjakkan kaki di rumah ini,
masih sama tapi ada beberapa ruang yang direnovasi, terlihat seorang wanita
duduk termenung di atas kursi rodanya, wajahnya pucat dan tirus, badannya
terlihat kurus sekali. Akupun menghampirinya, duduk di hadapannya, mencoba
untuk menahan tangis, menyentuh wajah tirusnya, melihat tatapannya yang kosong,
tanpa berkata sepatahpun dia mulai meneteskan airmata, aku pun memeluknya untuk
menguatkannya,
“Tara.....” sedihnya
“Iya, ini gue Triii, gue Tara....”ucapku “Sorry, gue baru
datang sekarang.............”lanjutku menahan airmata.
“Tara, gue takuuuuuttt,,,” tangisnya memecah keheningan.
“Lo gak usah takut Tri, ada gue di sini, gue gak akan bakalan
ninggalin lo lagi, oke!” jelasku mencoba menenangkannya.
“Tar...” sapa seseorang memecah keheningan tangis kami.
Tanpa pikir panjang, BUGG... akupun langsung memberikan
hadiah yang cukup untuk membuat mukanya memar, “bajingan lo, Tir!” kesalku,
“gue udah bilang sama lo, jaga Tri baik-baik, tapi apa? APPA? Lo liat dia, HUH,
lo liat dia, HUUUH!!!” teriakku sambil menarik kerah bajunya, diamnya Tirta
membuat kesalku semakin meluap tapi aku tak bisa memukulnya lebih dari itu,
“AARRGGGGHHHHH” kesalku.
“Cukup Tar,, Cukup,, hiks hiks” ucap Tri sambil menangis “gue
mau istirahat Tar, tolong anterin gue ke kamar, dan lo Tir, lo gak perlu ke
sini lagi” pintanya menahan isak tangis.
“lo tunggu di sini, urusan kita belum selesai” ucapku pada
Tirta yang jatuh terkulai akibat pukulanku, dan akupun mengantarkan Tri ke
kamarnya.
Tak butuh waktu lama, Tripun tertidur lelap, terlihat sekali
di wajahnya dia begitu lelah dan ketakutan, akupun mencoba menenangkannya
dengan menggenggam tangannya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang
hingga akhirnya dia dapat tidur dengan tenang, setelah itu, aku menghampiri
Tirta yang sedang duduk di ruang makan, mencoba untuk mengobati luka bekas
pukulanku,
“sini, gue bantuin” ucapku yang melihat dia sedang kesusahan
mengobati dirinya sendiri. Selama pengobatan suasana menjadi hening dan terasa
kaku sampai akhirnya,
“ma’af” ucapnya memecah keheningan, “gue gak bisa tepatin
janji gue” sesalnya. Gue cuma bisa diam dan terus melakukan pengobatan pada
wajahnya yang mulai terlihat bengkak, “kata dokter, Tri masih punya harapan
untuk melihat lagi dengan jalur operasi, auw” jelasnya terputus karena menahan
sakit di wajahnya, “tapi dia butuh pendonor mata untuk bisa melihat lagi” sambungnya
“ya udah, kalo gitu donorin mata lo buat Tri” cetusku yang
membuatnya terkejut “kenapa? Lo takut?” ketusku “cih, baru rencana aja, lo udah
takut, apalagi Tri” kesalku dan melampiaskan kekesalanku pada wajahnya yang
sedang kuobati
“auuwww,, pelan-pelan kenapa? Sakit tau, sini, biar gue yang
ngobatin sendiri” pintanya. Sikap kekanak-kanakan dan manjanya Tirtalah yang
membuat aku tak bisa memarahinya, aku hanya berpikir wajar, dia bersikap
seperti itu karena dari kecil dia sudah ditinggalkan oleh ibunya dan ayahnya
alias pamanku sibuk bekerja.
“lo tau kan Tar, gue udah lama mencari sosok Tri dari waktu
gue kecil, bagi gue dia itu peri kecil yang udah menyelamatkan gue dari
keterpurukan setelah nyokap ninggal, gue terus berpikir positif sejak saat itu,
meskipun nyokap udah gak ada dan bokap sibuk kerja, gue berusaha untuk
melakukan kegiatan positif dan sebisa mungkin tidak menjadi anak yang broken
home demi bertemu dia, karena katanya anak baik itu do’anya cepat sekali
terkabul, dan benar saja, pas SMA, gue ketemu dia, dan itu adalah hal terindah
yang Allah SWT kasih ke gue, awalnya gue ragu, apa mungkin gue masih suka sama
dia? Secara lo tau kan awal ketemu dia, waktu gue masih kecil banget, and
setelah waktu berjalan, ternyata gue sadar, kalau gue emang cinta sama Tri, gue
bakal ngelakuin apa aja agar Tri bahagia, gue rela magang kerja di mana-mana
demi masa depan kami, meskipun Tri kadang suka kesal dengan kesibukan gue, tapi
dia mencoba untuk selalu mengerti gue, nerima gue apa adanya, selalu mendukung
gue, sampai akhirnya, ada kesalahpahaman antara gue sama dia yang menyebabkan
kecelakaan itu dan sekarang Tri buta, lo tau Tar, bukan Cuma Tri aja yang syok
tapi gue juga, andai aja waktu itu gue gak mementingkan klien, mungkin ini gak
akan terjadi, gue,,, memang berencana untuk mendonorkan mata gue buat dia, tapi
gue juga takut, gue butuh waktu Tar, gue masih ingin melihat Tri ceria lagi,
tersenyum lagi” jelasnya.
“tapi Tir, peri kecil lo itu, keadaannya udah berubah, dia
sedang berada dalam masa-masa keterpurukan, mana bisa dia tersenyum, yang ada
matanya malah nambah bengkak gara-gara keseringan menangis” tuturku
“Nah, justru itu, gue butuh lo Tar, menurut gue, cuma lo yang
bisa buat Tri tersenyum, karena lo udah kenal Tri lebih lama daripada gue, jadi,
gue mohon sama lo, buat Tri tersenyum lagi” pintanya.
Sejak hari itu, hari demi hari gue, gue lewati dengan
mengurus segala kebutuhan Tri, mulai dari makan dan mengajak dia jalan-jalan,
tapi ma’af tidak dengan memandikannya yah, karena aku bukan muhrimnya, kalau
soal itu aku serahkan kepada bibi yang udah lama mengurusku sejak orang tua
merantau ke Singapore, hehe...
Awalnya agak sulit memang, mengubah mindset Tri yang sedang
dalam keadaan terpuruk menjadi berpikir positif lagi, tapi dengan keteguhan dan
kesungguhanku, akhirnya sekarang Tri sedikit demi sedikit berubah, dan tidak
ingin mencoba bunuh diri lagi tentunya, mulai ada senyum menghias di bibirnya,
semangatnya mulai tumbuh, kamipun rajin berkonsultasi dengan dokter dan
menanyakan apakah sudah ada donor mata yang cocok atau belum. Lalu bagaimana
dengan Tirta? Kalian mungkin bertanya-tanya ke mana dia, yah sebenarnya dia
selalu bersama kami hanya saja tanpa sepengetahuan Tri, Tirta selalu berkunjung
tanpa berucap satu katapun, karena kalau dia berbicara Tri pasti akan
mengusirnya lagi dan lagi, melihat kesungguhan Tirta yang mencintai Tri,
membuat aku sadar, Tri lebih membutuhkan orang yang seperti Tirta daripada
sepertiku, sudah saatnya mereka berdua bahagia.
“Taraaaaaaaa,,,,,, “ panggil Tirta, “akhirnya kita dapat
pendonor, barusan dokter nelpon gue, katanya ada pendonor mata yang cocok buat
Tri” tuturnya senang, dan akupun hanya tersenyum melihat tingkahnya,
“Triiiiiii,,, akhirnya, gak lama lagi kamu bisa melihat, sayang” ucapnya sambil
mengecup kening Tri dan memeluknya, Tri pun hanya bisa menangis bahagia dalam
pelukannya, menurutku, itu adalah moment yang bahagia yang gak bakal terlupakan.
Duniaku terang kembali
“1, 2, 3...... Tadaaaaaaaa, Surpise” ucap Tirta memberikan
suprise padaku di hari keduaku untuk melihat dunia, terang dan jelas, buatku
ini adalah anugerah-Nya yang terindah,
“Wuaaaahhhh,,,,, iniiiiiiiii” ucapku yang terputus karena
kekagumanku pada suprise Tirta yang berisikan potographi ku mulai dari kecil
hingga sekarang yang ia gantungkan layaknya menggantung jemuran di tambah
beberapa lilin kecil menghiasi taman membuat suasana romantis dan indah sekali,
jujur ini adalah hal teromantis yang pernah gue alami, (ya iyalaaahhh,, secara
lo kan emang gak pernah punya pacar selain Tirta,,, hahaha) hehe, “ Tirta,, ini baguuuuss banget, semua ini ide
lo?”
Tanyaku yang masih dengan rasa kagum.
“mmm,,, yup” singkatnya membenarkan pertanyaanku “mmmm....
Tri, gue,,, mmm,, lo,,, mmm” ucapnya yang sedikit ragu.
“lo tuh kenapa sih Tir? A e a e, mmm, apa? Lo mau ngomong apa
sama gue?” heranku sambil tersenyum karena kelakuannya.
“mmm, Tri, lo kan tau, gue sebenarnya udah kenal lo sejak
kecil, dan sejak saat itu gue suka sama lo dan rasa suka itu berlaku samapi
sekarang, lo selalu ada buat gue, selalu mendukung gue, nerima gue apa adanya,
jadi.... lo mau gak jadi pendamping hidup gue?” pintanya sambil bersimpuh
layaknya pangeran dan mengajukan sebuah cincin di depanku, mungkin jika kau
jadi diriku, kau pasti bakal bilang ya ya aku mau, mau banget pangeran, (haha,,
ya iyalah, mana ada cewe yang bisa nolak lamaran seromantis itu!)
Tappppiiii tidak denganku, pikiranku mulai tidak fokus setelah
aku melihat beberapa poto tempat rahasia antara aku dan Tara, dan baju yang aku
kenakan dipoto itu, bagaimana bisa? Bukankah Tara waktu itu ada di Singapore?
Siapa yang mengambil Foto itu, apa mungkin Tirta? Apa Tara memberitahukan
tempat rahasia kami pada Tirta, itulah yang ada dipikiranku saat Tirta
mengajukan lamarannya padaku,
“Tir, mmm, sory, sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue mau
tanya, lo dapet semua poto ini dari mana?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Oh, iniii, mmm, gue dapat semua poto ini dari Tara, dia
kan....” tutur Tirta yang terputus oleh pertanyaanku “di mana dia sekarang?”
“dia lagi di rumah, mungkin sedang berkemas-kemas karena besok dia mau kembali
lagi ke Singapore, tapi memangnya kenapa Tri?” herannya.
“Sorry Tir, gue gak bisa nerima lamaran lo, gue harus
pergi....”singkatku sambil terburu-buru pergi. Selama dalam perjalanan ke rumah
Tara, banyak pikiran-pikiran ku yang muncul mengenai kami berdua, dia yang
menemaniku dan menyemangatiku sejak SMP, dia yang pergi ke Singapore tapi
sebenarnya dia sering mengunjungiku tanpa sepengetahuanku, dia yang buat aku
bangkit dari masa keterpurukan saat aku buta, dia yang selalu memberikan senyum
dan membuatku tersenyum dan dia....
“Tarraaa,,,” panggilku sesampainya di rumah Tara, ternyata
kebiasaan Tara dan Tirta menular kepadaku yaitu maasuk rumah orang tanpa
mengetuk pintunya terlebih dahulu. Aku pun masuk dan mencari ke seluruh
ruangan, kamarnya Tara menjadi pencarianku yang terakhir.
“Tarraaa??” saat ku buka pintu kamarnya yang memang sudah
agak terbuka, aku melihat sesosok pria bertubuh tegap sedang berdiri menghadap
jendela yang sebesar pintu, yah dia
adalah Tara, entah apa yang sedang dipikirkannya, hingga dia berdiri di sana, dan
hal itu menambah daftar pertanyaan yang sudah mulai penuh dikepalaku mengenainya.
“Tarra?” sapaku pelan dan mulai mendekatinya perlahan, dia
tak menjawab sapaanku,
“Tarra? jangan pergi” pintaku sambil memeluknya dari belakang,
namun dia hanya diam dan suasanapun menjadi hening. “Tarraaa, gue gak mau lo
pergi” pintaku untuk kedua kalinya, tanpa berkata apapun dia melepaskan
tanganku dari pelukannya,
“Tara, liat gue, please jawab gue, lo gak bakal pergi lagi
kan?” pintaku untuk ketiga kalinya, “Tarraaaaa,,, li” ucapku terputus ketika
mencoba membalikkan tubuhnya dan melihat kondisi Tara yang berbeda, sebenarnya
apa yang telah terjadi? Apa mungkin... “Jadi... ini... hiks hiks, alasan lo
bakkal... pergi lagi ke Singapore?” ucapku mengalirkan air mata, “kenapa?...
Kenapa lo mau berkorban buat gue, kenappaa?” ucapku yang masih menangis dan dia
mencoba memelukku.
“sorry Tri, gue cuma mau lo bahagia sama Tirta, gue gak mau
liat lo sedih, mata ini gak berarti apa-apa dibanding kebahagian lo” jelasnya.
“tapi... gue sayangnya sama lo, Tara, gue cinta sama lo,
bukan sama Tirta, gue cuma mau hidup selamanya sama lo, please jangan pergi,
jangan tinggalin gue lagi” pintaku untuk ke sekian kalinya.
Cinta itu ini
2 bulan kemudian
“wuaahhh,,,lihat! siapa ini? Cantik sekali, jadi ngiri dweh” ucap Dira. Dan akupun hanya tersenyum
Yup, hari ini adalah hari terindah bagi aku dan Tara, setelah
bersusah payah untuk mendapatkan pendonor mata yang cocok bagi Tara, akhirnya
kami meresmikan hubungan kami di depan semua orang.
“Selamat yah Tri.....”ucap seseorang.
“Kak Irnaaaaa,,,,”senangku dan memeluknya dengan erat.
“wuaaaahhhh, lama tak jumpa, adikku cantik sekali” ucap seorang lelaki yang sedang menggendong bayi mungil, dan itu
cukup membuat ku terkejut riang.
“Kak Tiooooooooo,,,, “
ucapku, yang ingin memeluknya tapi terhalang si bayi mungil, “innni?”heranku.
“Hallooow tante...” sapa kak Tio mewakili si bayi mungil yang
masih belum ahli berbicara, dan itu membuatku terkejut, amat sangat terkejut,
ternyata kak Tio sudah berkeluarga dan punya anak, tapi dia tak pernah kasih kabar
tentang pernikahannya, karena katanya, papa pasti tidak akan setuju jika dia
menikah dengan wanita biasa, sedangkan kak Irna, dia mengalami keguguran akibat
kecelakaan setelah peristiwa besar itu, sedih sekali mendengarnya.
Aku pikir tak kan ada lagi hal yang mengejutkan selain
kedatangan kedua kakakku, tapi ternyata ada yang lebih mengejutkan lagi dan
rasanya ini adalah moment yang gak bakal aku lupakan seperti halnya moment 17
Agustus, kedua orang tuaku datang ke acara nikahanku ini, yaaah meskipun mereka
datang dengan pasangan masing-masing (miris yah!!) tapi kami semua merasa
bahagia dan akhirnya aku tahu CINTA ITU APA?
Cinta itu pengorbanan, penantian dan juga proses, itu menurut
gue, kalo lo? ^_^v
END,
Senin, 24 Agustus 2015
CINTA itu APA? part 3 ^_^v
Bebas Penjara
Akhirnya masa SMA gue bentar lagi kelar, itu artinya gue
bakal bebas dari penjara ini,,, hahaha senangnya, tapiiiiii,,,,, rasanya tak
sesenang itu, wisuda SMA nanti gak ada yang mendampingi gue, gak ada yang
ngasih ucapan selamat ke gue, gak ada,,, loh koq gak ada??? Please jangan tanya
kenapa gak ada, pleaseeeee (loh emang pada ke mana gitu?), lo tau kann terakhir
kabar tentang gue, gue Cuma tinggal sendiri di rumah, kemarin-kemarin sih orang
tua pada ambil jalan masing-masing so, mereka cerai di hari pertama gue UN, lo
bisa bayangin kan berapa stress nya gue, gue Cuma bisa pasrah sama Yang Maha
Kuasa, untuk nilai UN gue, untungnya hari pertama UN itu bahasa, dan sekarang
lulus atau gak nya ditentukan oleh Sekolah, kalau secara track record gue
selama sekolah, lumayan lah, banyak mengharumkan nama Sekolah dengan mengikuti
berbagai Olimpiade Sains gitu dweh, hehe,,, (oh gitu, kasian banget sih hidup
lo yah, lo tegar banget Tri, tapiiii bukannya lo masih punya kaka cowok yah? Ke
mana dia?) Oh iya, gue baru inget kalo gue masih punya kakak cowok, hahahaha,,,
(beuh,, dassaarrr) nama kakak gue itu Tio Natanegara, entahlah semenjak dia kuliah di luar kota
jarang banget pulang ke rumah, ngasih kabar juga jarang, nah sekarang udah
lumayaannn...(udah balik gitu maksudnya???) bukan.. uda lumayan ngilang gak ada
kabar sama sekali, lost contact, tiap kali gue nelp gak pernah diangkat, miris
kan, mungkin sekarang dia udah lulus dan dapat kerjaan kali yah jadi sibuk
dweh, entahlah berharap yang terbaik aja buat kakak-kakak gue,,,
WISUDA SMA yyyeee lalalala yyeee lalalala...
Akhirnya lulus juga, “Tri gue mau ngomong sama lo” pinta
Tirta, Oh akhir-akhir ini gue lebih deket sama Tirta daripada Tara, Tara
seringkali gak bisa pulang bareng karena alasan club basketnya, makanya gue
lebih sering pulang sama Tirta, ternyata Tirta itu kalau udah kenal ramah yah,
dulu dia jutek banget sama gue,,
“Mau ngomong apa Tir?” tanya gue penasaran.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lo, tapi gak di sini, jam 7
malem gue tugu di kafe biasa” ucapnya yang kemudian berlari terburu-buru, dan
gue Cuma bengong liat tingkah anehnya,
Selesai acara wisuda, gue mencoba mencari sosok yang selalu
ada buat gue, siapa lagi kalo buka Tara, “Taraaaaaa....” teriakku memanggilnya
dan menghampirinya.
“Motoin apaan sih? Sibuk bener?” tanyaku sedikit agak kesal
karena merasa di cuekin gitu dweh, hhmmm...
“Ini, gue lagi ambil beberapa poto buat dokumentasi, lo kan
tau, kalau gue salah satu panitia di acara wisuda ini,,, “ jelasnya.
Kemudian, cckkkrrkk...”ih apaan sih lu, moto gue ga
bilang-bilang” kesalku plus malu kali yah,
“hehehe,,, sorry, abis lo cantik hari ini, jarang-jarang kan
cewe yang serada tomboy kayak lo bisa secantik ini” goda Tirta dengan tersenyum
simpul . “besok gue mau pindah Tri” jelasnya sambil sibuk mengambil beberapa
poto.
“Apa? Pindah kota? Maksud lo Apa sih?” tanyaku yang bingung
“ga usah bercanda deeehh,, ga lucu tau” ucapku sedikit imut mungkin yaahh.
Mendengar perkataan gue, Tara menghentikan akitivitas memoto
nya, suasana hening sejenak
“besok, gue bakal pindah ke Singapura, gue bakal kuliah di
sana, lo tau kan orang tua gue ada di sana”jelasnya
“gak, gak mungkin, lo becanda kan Tar... Tara ini gak lucu,
lo tau kan kondisi gue kayak apa? Gue cuma punya lo di sisi gue, dan sekarang
lo ngomong apa? Pindah?... gue.. ucapku menahan tangis “gue kira, lo beda sama mereka, ternyata lo
sama aja kayak mereka, Cuma mikirin diri sendiri, EGOIISSS, gue kecewa sama lo”
kesalku yang membuatku berlinang airmata, dan pergi meninggalkannya begitu
saja.
Kring kring kring ... ada telepon masuk, angkat dwonk nanti
keburu gariingg... (nada sambung HP Tri berbunyi)
“Halo,,, Tri?” sapa Tirta “Gue udah mau sampai di kafe, lo
udah di mana?” tanyanya
“oh... mmm, ma’af yah tir, gue mungkin agak telat ke sananya,
gak apa-apa kan?” tanyaku menahan tangis,
“suara lo koq, agak serak sih, lo baik-baik aja kan?”
tanyanya lagi.
“mmm” gumamku
“ya udah sampai ketemu di kafe yah Tri...”ucapnya
“mmm” gumamku kedua kali dan menutup telepon dari Tirta,
suasana kembali hening, gue baru nyadar kalo waktu sudah menunjukkan pukul 7
malam, dan gue masih di ruang tamu duduk entah sudah berapa jam, pakaian
wisudapun masih gue pake, sebenarnya ingin sekali aku menyendiri di rumah seharian,
toh besok juga udah gak ada kegiatan sekolah lagi, tapi gue udah terlanjur
janji sama Tirta, gue pun mencoba untuk menggerakan tubuh yang terasa lemas
ini, mengganti pakaian dan menutupi kesedihan di wajah dengan beberapa polesan
make-up.
“ Triiiii,,,, sini” teriak dari kejauhan. Dan gue pun
menghampirinya
“ma’af yah Tir, udah nugu lama” ucapku
“gak apa-apa” jawabnya sambil tersenyum “oh iya, lo mau mesen
apa? Udah makan belom, mau mesen makanan berat atau mau cemilan aja?”
lanjutnya.
“traktir yaaahh” pinta ku mencoba sebisa mungkin untuk
terlihat bahagia. Meskipuunn, sebenarnya ada luka yang amat dalam di sini.
“tenaaannggg,,, hari ini lo mau makan apa aja gue trakti deh”
jelasnya
Kamipun memesan apa yang kami makan, mengobrol sambil
menunggu pesanan datang...
“wuuuahhh,, enak nih,, nyuummyyy,,,” celotehku
“makan lo banyak juga yah Tri sampe mesen 3 menu sekaligus”
ucap Tirta
“hehe, kata orang makan banyak itu bisa ngilangin stress”
tuturku
“stress? Emang lo lagi stress
Tri?” tanya Tirta keheranan
“ehhh,, aaahhh, ya enggaklah, gue gak stress koq malah otak
gue fresh banget karena akhirnya gue
lulus SMA juga” jelasku sambil
menyantap mie ayam super..
“Owwwhh, begitu toh, oke, untuk merayakan kelulusan kita, lo
boleh tambah pesenan apppa aja, yang lo mau”
tuturnya penuh semangat.
“hehe, gak ah! ini udah cukup koq, gue gak mau traktiran
pertama dari lo jadi traktiran terkahir dari lo juga” sindirku nyengir.
Hhhuuufftt, setidaknya masih ada Tirta, terima kasih Tirta
untuk malam indah nya
“Udah sampe nih” ucapnya. Tirta pun membukakan pintu mobil
nya untukku. Hahaha berasa princess deh gue,
“makasih yah Tir” pelanku dan menuju rumah.
“Tri..”panggilnya “eemmmm,,, ini buat lo” ucapnya
“apa ini?...” bingungku “loh ini,,,, bukannya ini
coklat..”ucapku yang terputus oleh ucapan Tara
“Yup... ini coklat waktu kita masa kecil dulu, lo inget gak,
anak kecil yang nangis depan rumahnya terus lo kasih coklat biar anak itu gak
nangis lagi, anak kecil itu sekarang ada di depan lo, TTri“ tuturnya
“jadi, lo itu anak kecil yang pernah gue kasih coklat dulu,
haha, ternyata dunia itu sempit yah, koq lo baru kasih tau gue sekarang sih?”
ucapku yang bercampur senang dan juga heran.
“mmm, sebenarnya gue mau kasih tau lo, tapiiii,,, gue nyari
waktu yang tepat aja, buat ngasih tau lo,” tuturnya. Suasana hening sejenak,
hanya ada senyum di wajah gue dan dia, “mmm, lo tau gak, semenjak lo ngasih
coklat itu, gue berusaha untuk gak terpuruk
lebih lama, sebenarnya waktu itu ibu gue meninggal karena sakit, saat
itu gue cuma bisa nangis, dan lo datang bagai peri memberi beberap coklat,
entah kenapa sejak itu gue mulai kepikiran tentang lo, mulai menunggu di depan
rumah berharap lo bakal muncul lagi, sampai akhirnya gue pindah ke sini dan
ketemu lo, awal ketemu lo sebenernya gue ngerasa kalau lo itu peri gue, tapi
gue butuh bukti, itu kenapa gue sengaja minjem chasan ke lo, karena gue pingin
tau lo itu bener peri kecil gue atau bukan, sampai akhirnya gue ngeliat poto
masa kecil lo dulu, makanya sekarang....” jelasnya
“tunggu deh, poto masa kecil gue? Emang Lo liat di mana gitu?
Heranku yang memotong penjelasannya.
“hehehe,,, ada deh, rahasia, “ ucapnya tertawa usil “mmmm,
Tri, gue udah lama nungguin lo, bagi gue lo itu peri kecil gue dari dulu sampai
sekarang, jadiiiii... lo mmmaaauu gggaak jadiiii ppaaccaar gue?” pintanya
DOR DOR DOR... OH MY GOOD, cowo seganteng Tirta nembak gue,
berasa dapet durian runtuh gue, tapi dagingnya duank yah enggak sama kulitnya,
please gak usah dibayangin sama kulitnya. Mmm...meskipun gue gak tau CINTA ITU
APA? Tapi gue berusaha yakin kalau cinta itu adalah sesuatu yang indah, dan
jawaban gue “Hu’um, gue mau jadi pacar lo Tir” jawabku yang membuat Tirta
sangat kegirangan,
“Oke, peri kecilku, selamat malam, mimpi indah yah” ucapnya
mengecup keningku dan pergi berjalan mundur ke arah mobilnya, tak
henti-hentinya dia tersenyum, senyum yang manis...
Gue pun masuk ke rumah, entah kenapa ketika aku menutup
pintu, ketika itulah aku membuka pintu ingatanku tentang Tara, sedang apakah
dia, apa dia sedang berkemas? Atau mungkin masih di sekolah? Atau mungkin dia
sudah tidur karena seharian memotret? Gue lihat hp, tak ada sms darinya. Lo tau
kan apa yang barusan terjadi??? Gue baru aja di tembak, gue baru punya pacar,
dan beberapa menit yang lalu gue adalah orang yang paling bahagia, tapi tapi
kenapa sekarang gue? Gue ngerasa sedih,,,
2 Tahun kemudian....
“Udah siap?” Tanya Tirta via telepon
“Udah nih” jawabku
“Okeh gue ke sana yah jemput lo” ujarnya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, udah 2 tahun gue
jadian sama Tirta, ke mana-mana kami selalu berdua, pergi pulang kampus, ke
tempat kerja magang, bahkan mau makan siang aja kita mesti barengan, hahaha,
udah kayak anak kembar yah, hhmmm meskipun udah jalan 2 tahun pacaran kami
tidak punya panggilan sayang, jadi masih gue lo aja, tapi meskipun begitu kami
merasa lebih akrab, bersama Tirta gue bisa ngelupain Tara yang sampai sekarang
tak pernah ada kabarnya, Tirta juga gak pernah cerita tentang sepupunya itu,
karena gue juga gak pernah nanya tentangnya bahkan menyebut namanya juga tidak,
tapi kenapa ketika gue sendiri, pikiran gue terpenuhi oleh kenangan tentang
Tara. Sebenarnya gue bingung, gue itu cinta atau gak sama Tirta karena sampai
detik ini gue masih tidak bisa mendefinisikan Apa itu Cinta? Yang jelas saat
ini gue ngerasa bahagia bersama Tirta, sampai akhirnya waktu dengan tega
memakan semua kebahagiaan itu..
“Tir, lo bisa anter gue, buat ngirim pesanan kue gak?”
pintaku
“mmm,, duh gimana yah, sorry nih Tri, hari ini gue gak bisa,
gue mesti ketemu klien pertama gue nih” jelasnya
“wow. Bagus donk, akhirnyaa,,, selamat yah Tir, okeh deh,
nanti gue minta dibantu sama Dira aja, good luck yah Tir, semangaaaatttt....”
ceriaku
“makasih peri kecilkuuuuu,,,,muacchhh” manjanya dan menutup
telepon dariku.
Yah mau gak mau gue mesti minta bantuan Dira sahabat gue di
kampus, sebenarnya sih dari SMA kita udah temenan tapi baru deket pas masa
kuliah, maklumlah dulu SMA gue fokus sama Tara and Tirta, tuh kan Tara lagi
Tara lagi....huft
Setelah mengantarkan pesanan, gue mampir ke kafe sekedar
membeli cemilan dan jus untuk gue dan Dira, pesanan pun langsung dibungkus, tak
disangka gue ngeliat sosok yang gue kenal sedang asyik bermesraan,,, syoook? saking
syooknya sampai kasir sedikit berteriak untuk meminta pembayaran, karena
teriakan yang sebenarnya sedikit itu, membuat beberapa orang melihat ke arah
gue, termasuk dia,,, kami saling tatap, gue gak percaya, 2 tahun lalu yang gue
bilang berasa ketiban durian, hari ini gue ketiban lagi tapi beserta
kulit-kulitnya rasanya sakit sekali, gue pun bergegas pergi dari cafe itu,
sumpah itu hal yang tersakit yang pernah gue rasa,
“Triiiiii,,,,, tunggguuuu” kejar Tirta dan akupun berhenti
“Tri dengerin guee,,, gue sama cewe itu gak ada apa-apa, dia
itu klien pertama gue, sumpaahhh” jelasnya meyakinkan
“klien? Klien lo bilang? Emang ada pertemuan klien sambil
pegangan tangan begitu? ADDAA? HUH?”Amarahku bercampur tangis
“OK, sorry, gue tau, gue salah, tapi dia klien pertama gue
Tri, kalo gue bisa yakinin tuh klien tentang prospek gue, gue bakal diterima
jadi karyawan tetap di perusahaan gue magang...ya emang sih, dia itu agak
sedikit genit dan dia bilang dia suka sama gue,,, tapiii.... gue”
“gue apa? Suka juga? IYAAAA” potong ku yang mencoba melepaskan cengkraman tangan
Tirta dan berlari menangis
“Triiiii awassss.....” teriak Tirta
BRUUUUUGGGHHH....
Langganan:
Postingan (Atom)








