Kamis, 03 Desember 2015

Cinta Koq Begitu? (Part 1)



“Nah, ini dia” ucapku setelah menemukan sosok yang aku cari di salah satu media sosial, “Owh... jadi, namanya Bagas Saputra” sambungku.
“Gimana?” ucap temanku yang mulai mengambil posisi duduk di sampingku, “ketemu?” sambungnya.
“Gak tau nih, coba kita lihat poto2nya yah, benar gak yah? Orangnya ini” ucapku. Kamipun menghabiskan waktu beberapa jam di warnet untuk mengkepoin orang yang mebuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Ih, manis yah...” ucapku.
“Iya, manis, tapi, coba lihat relationshipnya, jangan-jangan udah double lagi” ucap temanku. Ah benar! Baru kepikiran, akupun mulai mencari kata-kata relationship.
“Oh My Good, SINGLE...” girangku.
Semenjak hari itu, aku dan Bagas memulai pertemanan kami di medsos, dan aku berencana untuk mengajaknya bertemu, tapi aku bingung bagaimana? Apa alasannya bertemu? Lama berpikir, terlintas untuk meminjam buku padanya, secara kami dari jurusan yang sama namun berbeda tingkat, yah dia kakak tingkatku.
“Ini bukunya, sorry gak bisa ngobrol lama, so’alnya sebentar lagi masuk kelas” tuturnya dan pergi begitu saja. Kejadian itu buatku berpikir “HUH, begini duank?” tapi tetap saja bertemu dengannya membuatku tersenyum-senyum sendiri.
Meskipun pertemuan awal kami kurang begitu meyakinkan, tapi seiring berjalannya waktu kami semakin dekat, sampai akhirnya.
“Fatma yah?” sapa seorang wanita cantik berlesung pipi.
“Iya, kak” jawabku.
“Mau ketemu sama Bagas yah?” tanyanya lagi.
“Iyya” jawabku heran darimana dia tahu kalau aku mau ketemuan sama Bagas.
“Tadi Bagas titip pesan, katanya kalau mau ketemu tunggu sampai jam 5 sore, so’alnya mau ada workshop, gak apa-apa kan? Bentar duank koq” jelasnya tersenyum.
“Ya udah yah, oh iya, nama saya Rika” ucapnya memperkenalkan diri dan meninggalkanku pergi.
“Jam 5 sore? Hhmm, lamanya sekarang aja baru jam 4 sore” pikirku, “pulang aja, apa yah?” bingungku dan akhirnya aku mengirimkan sms kepadanya “aku pulang”
Dalam perjalanan pulang, aku melihat sosok bagas bersama seorang wanita dengan mesranya “loh? Bukannya itu kak Rika yah?” heranku dalam hati, namun sayang aku tak bisa melihat secara jelas karena angkut yang aku naiki berjalan cepat,
Rasa penasaranku terbawa sampai rumah, demi menghilangkan rasa penasaranku akupun bertanya padanya via sms “boleh nanya gak?” “nanya apa?” “Kak Rika itu siapa?” “teman” “yakin teman?” “ya iyalah, emang kenapa?” hhhmm akupun berpikir sejenak, iya yah memangnya kenapa? Dan akupun melanjutkan sms “cemburu tau” “loh, koq bisa?” “tau ah”   huaahh, kesal sekali rasanya, dia tak membalas smsku lagi.
Sejak hari itu akupun mulai curiga, dan tanpa sengaja aku melihat mereka berduaan, dan semakin lama ku amati, mereka memang sering jalan berdua, ke sana berdua ke sini juga berdua, masa iya cuma teman? Sampai akhirnya aku mencoba menelponnya ketika aku melihat mereka sedang berduaan, dan teleponku di reject begitu saja, oh my good sakit banget rasanya.
Malam hari tiba, aku mengirimkan sms kepadanya “tadi siang aku telepon koq gak diangkat?” “telepon? Masa sih?” “hhmm, kamu suka yah sama Rika?”. Setengah jam kemudian “memang kalau suka kenapa?” “gak apa-apa, cemburu aja” “oh” “terus, kamu udah nembak dia?” “waduw, masa nembak, yang ada tuh anak mati lah, hehe” “ih seriiuusss..” “gak koq, dia cuma teman”  teman lagi? Mana ada teman kayak orang pacaran. “ya udah besok ketemuan yah” “mau ngapain?” “ketemuan aja, kangen, hehe.” Diapun tak menjawab smsku lagi, huaahh sedihnya.
Hari pertemuan, menunggunya sungguh membosankan, jika saja aku tak menyukainya mungkin aku tak kan mau menunggunya.
“Loh, Fatma? Lagi ngapain di sini?” tanya kak Rika, “Haduh! kenapa ada kak Rika sih?” pikirku “Lagi nuguin Bagas yah?” tanyanya lagi.
“Iya” singkatku pelan.
Tak lama kemudian, Bagas datang, tapi koq sama teman-temannya yah?
“Gimana? Udah pada selesai workshopnya?” tanya kak Rika, “Udah” jawab salah satu di antara mereka.
“Hai” sapaku pada Bagas,
“Cie-cie, siapa tuh Gas?” tanya temannya menggoda, “Pacarnya bagas tuh” celetuk kak Rika. Teman-teman bagas hanya mengatakan “OOOwwhh” dengan serentak dan mengangguk.
Pacar? sejak kapan aku menjadi pacarnya Bagas, memang sih.. aku suka banget sama Bagas, tapi kami belum resmi jadian, lagian Bagas juga gak pernah mau jawab, kalau ditanya tentang perasaan, and then kenapa juga kak Rika mengira kalau aku pacarnya Bagas, bukannya dia yah yang pacarnya Bagas? Apa mungkin Bagas cerita tentang diriku padanya? Bete deh.
Malam hari, entah kenapa aku ingin sekali mengirim sms kepada kak Rika “kak Rika, Bagas suka tuh sama kak Rika” “waduh? masa sih? Hahaha” “iya, kenapa kalian gak pacaran aja? Kalian kelihatan serasi koq” “mmm, ya gak mungkinlah, lagian kak Rika udah punya tunangan kali, nanti tunangan kak Rika mau dikemanain?” hah? Punya tunangan? Tapi koq gitu? “Lagian Bagas itu sukanya sama kamu, cuma dia gengsi aja” Bagas suka sama aku? Wuaahh tapi koq gitu? Hhhmm jadi penasaran, akhirnya aku mengirimkan sms ke Bagas “kamu suka sama aku?” lama tak ada jawaban “kalau suka kenapa? Kalau gak kenapa?” “iihh seriuusss...”  tak ada balasan sama sekali. 
Aku tak menyangka kalau itu adalah sms-an kami untuk yang terakhir kalinya, karena tak lama setelah sms itu, aku menerima cinta dari lelaki lain, karena kupikir dia menyukai kak Rika, sehingga aku harus move on, namun perjalanan cintaku tak berjalan mulus, baru 1 bulan berjalan, kami sudah putus, karena aku menyadari, siapa sebenarnya yang aku cintai, ingin sekali rasanya aku kembali pada Bagas meski hanya sebagai teman, tapi sayang, usut punya usut ternyata dia telah berpacaran dengan kak Rika. “Ah benar! Katanya, tak ada yang namanya pertemanan antara lelaki dan perempuan” pikirku.